Minggu, Mei 01, 2011

Kesetiaan

- Cerita Pendek, oleh Riffi Amalsyah -
(Dimuat dalam Majalah Kartika Kencana Edisi 84/Th.XXVII-Juli2010)



Vira menyeka titik-titik peluh di wajahnya. Sudah dua jam ia memasuki berbagai toko buku, namun tak kunjung ditemukannya buku yang ia perlukan. Udara di tengah hari itu cukup membuat gerah. Lalu lintas pun seakan terpengaruh karenanya, dengan kemacetan arus kendaraan di sekitar pertokoan tersebut, meski sesungguhnya itu lebih disebabkan oleh ramainya orang-orang yang menggunakan waktu istirahat siang untuk makan dan urusan lainnya.
Sebuah toko buku yang cukup ramai walaupun tidak megah, membuat Vira menghentikan mobilnya dan memasuki toko tersebut. Begitu tiba di dalamnya, ia melihat banyak koleksi buku berderet di sepanjang dinding toko itu. Setelah memperoleh buku yang dicari, wajahnya seketika berubah ceria. Tanpa disadari, senyumnya mengembang saat ia membalik-balik halaman buku tersebut. Keadaan ini memancing perhatian seorang pria yang sejak Vira bertanya kepada pramuniaga tadi telah beberapa kali mencuri pandang kepadanya dan mengamatinya.
Benarlah, ia memang Vira, kata hati pria itu. Ternyata ia telah menjadi seorang wanita yang matang… Mengapa dulu aku tidak memperkirakannya, batinnya.
”Banyak juga buku yang dicari, Bu?" tanyanya setelah berada di samping Vira.
Konsentrasi Vira tidak terusik sedikitpun, sehingga pria tersebut mengulangi pertanyaannya.
Akhirnya Vira bereaksi sambil menoleh sekilas pada pria itu. "Iya, betul Pak…", Vira mengembalikan perhatian pada bukunya.
"Oo… begitu," ujar pria itu.
Mendengar suaranya, wajah Vira memancarkan ekspresi terkejut hingga sesaat ia mematung dengan dagu terangkat dan pandangan kosong ke depan. Rasanya aku pernah mendengar suara orang ini, pikirnya.
Suatu getaran menguasai seisi relung batinnya. Vira menoleh kepada pria tersebut yang tengah menunduk membaca sebuah buku sambil tersenyum. Vira mengorek ingatan samar-samar di dalam benaknya.
Pria itu menoleh dan menatapnya. Seketika itu juga Vira dapat lebih jelas mengenali wajah pria itu. Hatinya terkesiap, matanya terbuka lebih lebar. Oh… Guntur, bagaimana mungkin aku melupakanmu…, ujarnya dalam hati.
“Apa kabar, Vir?” tanya pria itu tersenyum.
Denyut jantung Vira berpacu kuat, “Eee… Aa… Aku baik-baik saja…,” Vira mengalihkan perhatian kembali pada bukunya untuk menutupi rasa gugup.
“Hei… Vira. Sudah lama tidak bertemu, tidak ingin menyalami aku?” Guntur mengulurkan tangannya.
“Oh… Iya, iya... maaf…” Vira menyambut jabatan tangan Guntur. “Apa kabar juga denganmu, Mas?” suaranya agak gemetar.
“Aku baik-baik saja… Sedang cari buku apa, Vir?” Guntur belum melepaskan tangan Vira.
“Biasa… untuk keperluanku mengajar. Kebetulan aku sedang tidak mengajar, jadi kugunakan waktu hari ini mencari buku yang kuperlukan untuk para mahasiswaku.”
“Oh… pekerjaanmu dosen, rupanya. Apa buku yang dicari sudah kamu temukan?” Guntur masih menggenggam tangan Vira dengan pandangan menelusuri paras ayunya.
Vira bertambah salah tingkah. “Sudah… Ini, yang sedang aku baca,” Vira berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Guntur. “Permisi sebentar, ya…” Kenapa kamu jadi begini, Vir…? Tunjukkan rasa percaya dirimu dong, hati Vira berbisik.
Memahami sikap Vira, Guntur melepaskan genggaman tangannya. Selanjutnya Vira berpura-pura masih mencari-cari buku, namun seakan tidak peduli Guntur terus mengikutinya, hingga saat Vira menghampiri meja Kasir pun Guntur bersikeras membayarkannya meski Vira sudah berusaha menolaknya.
“Terima kasih banyak, Mas. Maaf, aku sudah merepotkan,” ujar Vira setibanya di luar.
“Jangan sungkan begitu, kita kan bukan baru kenal kemarin.”
Kalau memang demikian, mengapa dulu kau tak memberi kabar, batin Vira bertanya. “Mas Guntur tinggal di sini ?”
“Ya, baru seminggu. Aku baru pindah ke kota ini. Dan kau sendiri?”
“Aku sudah hampir satu tahun tinggal di kota ini, sejak suamiku menerima tugas barunya... Baiklah, aku pulang dulu, Mas.”
“Kamu mau ke mana lagi, Vir ? Ayo, aku antar,” Guntur menawarkan jasa.
“Terima kasih, Mas. Mobilku diparkir di sana, silakan kalau Mas Guntur masih ada kegiatan lain... Sampaikan salamku untuk Mbak Eva, ya…”
Vira hendak berbalik, namun Guntur menarik tangannya tanpa mempedulikan pandangan orang-orang di sekelilingnya. “Tunggu, Vir. Kamu mau pergi begitu saja, setelah sepuluh tahun lebih kita tidak bertemu? Kamu tidak senang bertemu denganku?”
“Ah… Bukan begitu, Mas. Aku hanya tidak mau mengusik kegiatanmu,” dalih Vira menghindari tatapan Guntur.
“Kalau memang aku merasa terusik, untuk apa aku menawarkan diri ingin mengantarmu..?”
Vira membisu. Oh, Tuhan… Mengapa dia tidak mau beranjak pergi..? Mengapa Kau pertemukan lagi aku dengannya..., keluh hati Vira.
“Aku ingin mengajakmu makan siang, boleh ?” tanya Guntur dengan tatapan memohon.
“Maafkan aku, Mas. Bukannya aku tidak mau, tapi anak-anakku di rumah sudah menunggu. Hari seperti ini saat aku bebas tugas mengajar, mereka berharap bisa makan siang bersamaku,” Vira masih berusaha mengelak pendekatan Guntur.
Merasa ditolak sedemikian rupa, Guntur mengalah, “Ya sudahlah, kalau memang kamu tidak sempat, aku tidak memaksa. Padahal banyak sekali yang ingin kubicarakan denganmu. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi.”
“Baiklah… Sekali lagi terima kasih, Mas. Aku pulang dulu.”
“Hati-hati, Vir. Salam untuk suamimu,” Guntur sama sekali tak beranjak dari tempatnya sampai Vira dan mobilnya hilang dari pandangan ditelan kepadatan lalu-lintas.


**********


Selama seminggu ini, pikiran Vira tidak tenang. Tak seperti biasanya, kini ia merasakan rindu sangat mendalam kepada suaminya, Bayu. Meskipun Bayu keluar kota selama beberapa hari bukanlah hal yang luar biasa bagi Vira – dibandingkan saat ia harus berbulan lamanya menanti kepulangan Bayu dari tugas operasi di daerah rawan konflik maupun rawan bencana – namun kini ia benar-benar merasa sangat membutuhkan Bayu untuk diajaknya berbagi rasa. Padahal, baru tadi pagi Bayu meneleponnya, mengabarkan ia akan tiba sore nanti.
Peristiwa pertemuan dengan Guntur beberapa hari kemarin telah membawa angannya kembali pada masa lalu. Ia tidak akan pernah lupa pada kenangannya bersama Guntur...
Vira masih duduk di bangku Kelas III Sekolah Menengah Atas saat pertama kali berjumpa dengan Guntur – mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur Semester VI – di pesta ulang tahun sahabatnya. Dari perkenalan itu selanjutnya mereka menjadi akrab, karena Guntur sering berkunjung ke rumahnya dan mereka sering jalan bersama.
Setelah persahabatan mereka berjalan sekitar satu tahun, saat Vira berstatus sebagai mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi, ia mulai menaruh hati kepada Guntur akibat kebersamaan mereka. Namun perasaannya itu tidak pernah sekali pun diungkapkannya kepada Guntur, karena meski selama ini Guntur sering menunjukkan rasa sayang kepadanya melebihi persahabatan biasa, tetapi Guntur selalu menganggapnya seperti layaknya seorang anak kecil. Vira menyadari benar kenyataan itu, mengingat Guntur selalu memanggilnya dengan sebutan “adik kecil”.

Dari sahabat Guntur, Vira mengetahui bahwa Guntur memiliki seorang kekasih di kota asal tempat tinggalnya, yaitu Eva, teman sekelasnya saat di SMA. Vira sering menggoda Guntur untuk mengakui hal itu, namun Guntur selalu menghindar dengan mengalihkan pembicaraan dan tidak pernah mau mengakuinya. Perasaan Vira menjadi tak menentu karenanya...
Dua tahun berlalu setelah itu, Guntur menyelesaikan kuliahnya. Ia kembali ke kota asalnya. Pada awal kepergiannya, ia masih menyurati Vira secara teratur – sebulan sekali – menceritakan bagaimana ia mulai bekerja sebagai Arsitek di sebuah perusahaan konstruksi, bagaimana ia menghadapi bosnya, dan banyak cerita lainnya, namun tiada satu surat pun yang bercerita tentang sisi kehidupannya yang paling pribadi, tentang siapa pacarnya. Hal ini semakin membingungkan Vira, karena Vira selalu bercerita tentang apa pun perasaannya, kecuali rasa sayangnya yang telah berubah menjadi rasa cinta yang terpendam kepada Guntur.
Di dalam surat-suratnya, Vira bercerita kepada Guntur tentang beberapa teman kuliah maupun kenalan yang menyatakan menaruh hati kepadanya namun tidak ada satu pun yang dapat mengisi hatinya, karena ia merasa diri “masih kecil”, “masih muda”, dan sebagainya. Ia tidak pernah menyatakan bahwa alasan penolakan atas semua pria yang mendekatinya adalah karena ia masih selalu mengharapkan Guntur-lah yang dapat menjadi kekasihnya…
Menjelang akhir kuliahnya, Vira mulai jarang menerima surat dari Guntur bahkan akhirnya sama sekali tak lagi menerimanya, namun demikian Vira masih tetap menyuratinya. Vira berpikir, mungkin Guntur telah sedemikian sibuknya dengan pekerjaannya, demi kelancaran perjalanan karirnya.

Tiada terasa waktu berlalu, hingga Vira telah menyelesaikan kuliahnya. Sebelum menjadi dosen tetap kini, ia bekerja sebagai pegawai honorer di sebuah perusahaan konsultan manajemen. Di tempat itulah ia mulai berkenalan dengan Bayu, seorang Perwira muda TNI Angkatan Darat. Tugas dan pekerjaan Bayu yang berhubungan dengan bidang konstruksi dan berkaitan dengan perusahaan tempat Vira bekerja, telah mempertemukan mereka dalam hubungan pekerjaan.
Pembawaan Bayu yang tenang, memiliki kharisma yang membuat Vira senang bergaul dengannya, meski usia Bayu lebih tua darinya, berselisih sekitar tujuh tahun. Luasnya wawasan pengetahuan pemuda itu banyak membimbing dan membuka pikirannya, sehingga Vira dapat segera menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya dan sungguh menikmati seluruh pekerjaannya.

Baru sekitar 6 bulan Vira bekerja, saat menghadiri pernikahan sahabatnya semasa kuliah, ia bertemu dengan sahabat Guntur. Dengan gembira ia bertanya tentang kabar Guntur, namun jawaban yang diterima membuatnya merasa seakan dunia berhenti berputar, “Guntur sudah menikah dengan Eva, teman SMA-nya itu…” Selanjutnya ia menangkap pembicaraan sahabat Guntur itu bahwa mereka sudah berkali-kali putus pacaran, lalu menyambung lagi, kemudian putus lagi, menyambung lagi, dan seterusnya, hingga akhirnya mereka jadi menikah juga.

Suara teriakan anak-anaknya – Ksatria dan Rio – yang menyerukan Bayu telah tiba, menyadarkan Vira dari lamunannya. Ah… kenapa aku jadi tukang melamun begini, keluh hatinya. Bergegas ia ke ruang depan menyambut kedatangan suaminya itu. Hatinya lega, Bayu sudah kembali ke rumah dengan selamat.
“Capek ya, Mas?” Vira mencium punggung tangan Bayu dan mengambil tas kerja yang diletakkan di kursi tamu oleh Pak Kardi, supir dinas suaminya. “Aku siapkan air hangat untuk mandi, ya ? O’ya, sebentar… aku buatkan kopi dulu,” Vira dengan segera telah melaksanakan kembali tugas rutinnya setiap Bayu baru tiba kembali di rumah.
“Nanti dulu dong, Dek…” bisik Bayu menggoda Vira. “Aku tidak ingin minum kopi, tapi aku ingin kamu... Sini… aku kangen sekali padamu,” Bayu memeluk Vira dari belakang, hingga Ksatria dan Rio tertawa-tawa melihatnya.
“Mas… malu ditertawakan anak-anak, itu…”
Meski sudah tujuh tahun menikah, Vira masih saja suka tersipu-sipu menanggapi perilaku Bayu yang senang menggodanya. Sikap tersipu-sipu Vira itulah yang membuat Bayu selalu merindukannya.

**********

Vira membetulkan selimut yang tersingkap saat Bayu mengangkat lengan untuk memeluknya. Desah nafasnya teratur, Vira mengeratkan pelukan sambil termenung memandang raut wajah tampan suaminya…
Delapan tahun lalu, Bayu melamarnya saat ia mulai melupakan Guntur. Setelah selama hampir satu tahun Vira menyelami sikap dan perilaku Bayu sejak mereka mulai berkenalan, Bayu nampak memberikan perhatian yang sangat istimewa terhadap Vira, dibandingkan dengan semua teman laki-laki Vira. Sifatnya yang penyabar telah meluluhkan hati Vira, terutama saat menghadapi sikap Vira yang terkadang dirasakannya sendiri sebagai sikap kekanak-kanakan.
Saat itu Vira beranggapan bahwa Tuhan telah mengirimkan kepadanya seseorang hanya sebagai pelipur duka dan penyembuh patah hatinya. Namun kemudian ia percaya bahwa anggapannya semula itu adalah kurang benar, karena ternyata ia sangat mencintai Bayu, setelah ia menyadari bahwa ketertarikannya kepada Bayu sesungguhnya karena ia juga telah menaruh hati kepadanya.
Memang, terkadang ia masih mengingat kenangannya bersama Guntur, namun hanya di masa awal pernikahannya. Tentang segala sesuatu mengenai Guntur dan hubungannya dengan pria itu, diceritakannya semua kepada Bayu. Selanjutnya, Vira berusaha untuk melupakan sama sekali kenangan tersebut, didasari keyakinan bahwa ia tidak boleh menodai ikatan suci perkawinan mereka.
Meski demikian, Bayu bersikap toleran dengan sesekali menanyakan kepadanya apakah ia mendengar kabar tentang Guntur, saat menyelangi pembicaraan mengenai masa lalu masing-masing…
Helaan panjang nafas Bayu mengembalikan kesadarannya. Alangkah bersyukurnya aku menjadi istrimu, Mas Bayu… Tanpa terasa, ia pun menyusul Bayu menuju alam mimpi…


**********


Vira memasuki ruang kerja Bayu dengan langkah ringan, setelah sebelumnya ia mengetuk pintu. Di sela waktu luangnya, ia menyempatkan diri bertemu Bayu di Batalyon. Tadi pagi mereka sudah saling berbincang, tetapi kerinduannya seakan belum habis. Di dalam ia melihat Bayu sedang berbicara dengan seseorang, namun ia tak mengenalinya karena pria itu duduk memunggunginya.
Melihatnya masuk, Bayu segera mengenalkannya dengan pria tersebut, “Hallo, Dek. Kenalkan, ini Mayor Guntur, calon Wadan baru yang akan menggantikan Mayor Haris. Tur, kenalkan… ini istriku, Vira…”
Pria itu berdiri dan berbalik menghadapinya seraya hendak mengulurkan tangan. Jantung Vira kembali terkena sengatan seperti beberapa hari yang lalu. Demikian pula halnya dengan Guntur, ia pun seakan kembali dihadapkan pada komandan yang diseganinya di masa lalu hingga seketika mengambil sikap sempurna.
Melihat ekspresi wajah kedua orang di hadapannya, Bayu serta-merta menyadari bahwa inilah “Guntur” yang selalu diceritakan Vira. Semula ia memang tidak pernah berpikir sampai ke situ.
Untuk sejenak keheningan menguasai dan melingkupi ruangan itu seolah hendak menelan mereka semua yang berada di dalamnya. Namun setelah itu Bayu sekejap mencairkan kebekuan suasana itu, “Hei, hei… Buat apa kukenalkan kalian… Kalian sudah saling kenal ‘kan?”
Vira tersadar dan tersipu malu. Ia mengulurkan tangannya kepada Guntur. Menyaksikan keadaan ini, Bayu yang sangat memahami perasaan istrinya yang sangat ingin mengetahui kabar tentang Guntur – setelah selama bertahun-tahun ini menyelimuti perasaan Vira – dengan arif menyilakan mereka berdua untuk saling berbicara.
“O’ya… Aku mau lihat dulu persiapan di Ruang Data. Kamu jangan pulang dulu ya, Dek” ujar Bayu kepada Vira. Lalu ia menoleh kepada Guntur, “Tur… Tolong kamu temani dulu istriku mengobrol di sini, ya… Sebentar aku kembali.”
Tinggallah Vira bersama Guntur di dalam ruangan Bayu selepas ia keluar dari tempat itu.
Mereka duduk berhadap-hadapan. Guntur yang beberapa hari lalu aktif mendekati Vira, kini terdiam membisu. Vira mencoba membuka percakapan.
“Aku baru tahu kalau Mas Guntur yang akan menggantikan Mayor Haris…”
“Ee… Iya, Vir… Baru hari ini, tadi pagi aku ke Kodam dengannya didampingi oleh suamimu,” Guntur mulai dapat menguasai dirinya kembali. “Aku juga baru tahu kalau calon komandanku itu suamimu...”
“Aku juga baru tahu kalau Mas Guntur ternyata adalah seorang prajurit Angkatan Darat, aku masih mengira Mas bekerja di perusahaan swasta itu... Sama sekali tak kukira bahwa selama sekian tahun ini kita berada dalam lingkungan yang sama,” sahut Vira pelan.
Guntur tersenyum, “Setelah hampir 2 tahun bekerja di perusahaan itu, aku memutuskan untuk menjadi seorang prajurit. Tapi tidak seperti suamimu yang lebih banyak tugas tempur di lapangan, aku lebih banyak bertugas sebagai Staf karena profesiku ini. Dan kini... di sinilah aku bertugas sekarang.” Guntur menghela nafas, “Maafkan sikapku yang lalu…”
“Sikap Mas yang mana ? Ah… Jangan dipikirkan, Mas…”
“Selama ini aku tidak pernah menghubungi kamu lagi, karena aku sibuk dengan pekerjaanku…”
“Tidak apa-apa, Mas. Yang penting aku senang mendengar Mas Guntur bahagia,” Vira tersenyum. Aneh, mengapa sekarang aku bisa setenang ini menghadapinya, pikirnya.
“Tapi aku tidak bahagia, Vir. Sesungguhnya dulu aku mencintaimu, Vir… sampai setelah perpisahan itu, bahkan hingga kini pun aku masih selalu merindukanmu…”
Alis Vira terangkat. Ekspresi wajahnya menunjukkan keinginan bertanya, tetapi Guntur terus berbicara.
“Sampai kini, Eva pun hanya memiliki ragaku, tetapi tidak jiwaku… karena hatiku telah kamu bawa, Vira…” Guntur menatap mata Vira.
“Jangan berkata demikian, Mas. Itu tidak pantas…” Rasa simpati Vira kepada Guntur lenyap seketika.
“Tapi itu kenyataannya, Vir. Aku berada pada dua pilihan saat itu, kamu atau Eva. Sejak SMA aku sudah terlanjur mengikat janji dengan Eva, untuk bersamanya kelak hingga menikah. Aku tak bisa mengingkari janjiku, hubungan kami sudah sedemikian dekatnya. Tapi kemudian aku bertemu denganmu, kamu sudah menawan hatiku, aku mencintaimu. Namun untuk mengatakannya, sungguh tidak mungkin.”
Bayangan kabur yang dulu sering menghantui Vira, kini lenyap begitu saja… Ia telah tiba pada kesimpulannya... Ia sudah mengetahui kelanjutannya…
“Mas Guntur, ketahuilah bahwa aku tidak pernah mencintaimu. Aku menyayangimu hanya sebagai seorang kakak…”
Guntur tertegun.
“Mas Guntur sendiri yang selalu memanggilku dengan sebutan ‘adik kecil’… Ingat, kan…?”
“Tapi… Vir… Aku...”
Saat itulah Bayu masuk ke dalam ruangannya, “Bagaimana, sudah sampai mana obrolannya?”
Guntur membisu. Ia tampak malu…
Bayu mengangkat alisnya menatap Vira, yang mengedipkan sebelah mata kepadanya. Bayu menangkap isyarat itu, lalu dijabatnya tangan Guntur. “Baiklah, sudah siap untuk jabatan barumu?”
Guntur yang merasa tahu diri bersiap keluar ruangan, “Siap, Dan. Mohon ijin, saya langsung ke Ruang Data saja Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada para Kasi dan Danki sebagai pendahuluan untuk Rapat nanti.” Ia mengangguk kepada Vira tanpa berani menatap matanya dan berlalu dari ruangan itu.
Begitu Guntur menutup pintu, Bayu bertanya, “Apa yang kamu obrolkan, Dek?” Kok Guntur pucat seperti mayat begitu ?”
“Pada intinya, sekarang mataku semakin terbuka lebar, Mas…”
“Ah… dari dulu matamu memang bulat begitu, kok,” goda Bayu.
“Eh… Mas Bayu ini… Maksudku, aku sekarang sadar dia tipe laki-laki macam apa. Persahabatan dan kesetiaan baginya ternyata hanya untuk diucapkan saja. Aku bisa mati berdiri kalau jadi istrinya…,” Vira teringat akan ucapan Guntur.
“Betul, nih ?”
“Nanti aku ceritakan selengkapnya di rumah, Mas. Yang pasti, aku makin bersyukur kau sudah memilihku menjadi istri Mas...”
“Syukurlah kalau kamu sudah mengatasinya. Aku percaya padamu.” Bayu tersenyum mengelus pipi Vira. “Sekarang apa acaramu ?”
“Aku mau ke kampus, Mas. Ada tugas mengajar.”
“Kalau begitu, tunggu aku di rumah malam nanti…” Sebelah mata Bayu mengedip nakal.
Vira kembali tersipu meski mereka hanya berdua di ruangan itu. “Iya… Aku pergi dulu, Mas…” Vira mencium tangan Bayu yang kemudian dibalas Bayu dengan mengecup dahi Vira.


**********


Dalam perjalanan menuju kampusnya, Vira merasa sangat bersyukur bahwa Tuhan telah mengaruniakan Bayu kepadanya, dan tidak menjodohkannya dengan Guntur. Terjawab sudah semua pertanyaan yang selama ini sering memenuhi benaknya, mengapa Guntur tidak bisa menjadi miliknya. Di wajahnya tersungging senyuman puas dan bahagia…



- Palembang, 3 April 2009 -



Kamis, April 28, 2011

E-Mail for My Son

Assalamu'alaikum wrwb.

Hello, Son.
Alhamdulillah, i am fine.
We are all fine, here.
I am glad you are alright...

My dearest son,

Thank you so much for the letter,
the words you said from deep in your heart just for me.
It makes me so happy, you know.
I am glad that you always thinking of me, your mother, as i always do...

Thanks to Allah, that I have you in my world.
You are the best and the most beautiful gift I ever have in my life.
You are my daily sunshine, that always give a guidance for me
to walk on my path so I always be strong to face my life.
You are my inspiration,
so I can do everything
that makes my life so beautiful and full of happiness.
You are my thoughts when I am awake
and you are my dreams when I am sleep...

I do not mind if you always make phone calls for me everytime you want to.
But I am truly sorry if sometimes I did not answer your phone calls,
because at the same time I had another works to do or just asleep.
You know, just hear your voice on the phone,
it makes all of my sadness or problems disappeared.
So call me as often as you can, Dear.
I miss you all the time...

Be sure, that I always pray for you.
Your name always be in my pray,
every night and day,
I send my love for you.
Whatever mistakes you've ever had,
it will be disappeared by every pray I ask Allah for you.
A mother always forgive her son, and so do I...

If I was angry with you,
it's all because I care for you.
I want you to be the best, that's all.
So I am so sorry if I ever make you disappointed,
because I only want the best for you.
I hope you can understand about this matter wisely...

If I was happy, it's all because of you.
You know, I always miss your funny smile.
I miss your laugh, I miss your jokes.
I miss your handsome face,
I miss your style as my bodyguard... ;-)

My lovely son, do whatever you wanna do.
Make all your dreams come true.
Believe me, I will always support you with all my heart.
Eventhough I feel sad because you are far away from me,
but I am sure that you will always make me proud
for whatever you've done in your life...

Always be a good son for us, as you always do.
Remember the advice from your father,
to : "make honesty as a leader of life".
Don't forget this, Son...

I will always love you more and more,
because you are part of my soul.
Allah will always take a good care for you, my beloved son.
Don't ever leave Allah from your life,
so keep your spirit high to achieve your best future life...
:-)

Love and love always,
Your Mother

- Riffi Amalsyah -

Palembang, Sunday 14th November, 2010

Rabu, Desember 08, 2010

E-Mail from My Second Son...

To : Mom Riffi Amalsyah @ Palembang

Assalamu'alaikum wr. wb.

Hello, mom. Well, how are you?
Of Course I hope that mom will always fine and healthy. Well, actually I wrote this letter as a part of assignments from Mr. Asdad. I will get the score if Mom reply it. But, I'll think of it as an opportunity to say everything that I can't say up to this time. So mom, please pay attention to this letter. Please listen to me, reply it, and please forgive me.

Well, actually first I wanna say sorry.
I wanna say sorry to make you disappointed for what i did.
I wanna say sorry for making too much trouble to you.
I wanna say sorry if sometimes I'm annoying and make you angry.
I wanna say sorry if I extort too much money from you.
I wanna say sorry if I can't be like what you've been expected.
I wanna say sorry if I ever mock you either frontal or behind you.
I wanna say sorry if I ever yell and shout to you rudely.
I wanna say sorry if I ever lied to you.
I wanna say sorry if I ever said 'ah' to you.
I wanna say sorry if I never listen to your good words.
I wanna say sorry for everything I did, for all of my mistakes.
Mom, sorry.

And I also wanna say thanks to you mom.
I wanna say thanks for your kindness.
I wanna say thanks that you make me feel secure in the house.
I wanna say thanks because you always give me advice and conclusion if I've ever been in trouble.
I wanna say thanks because you always be patient to me.
I wanna say thanks because no matter how hard it is, you always take care of me.
I wanna say thanks for your delicious cream soup and spaghetti that you make for me.
I wanna say thanks to you because you always thinking of me, although now i'm far away.
I wanna say thanks to you because you always supports me whatever the activities that I wanna do.
I wanna say thanks to you because you give birth to me, and always protect me when I was little.
I wanna say thanks for your lovely kindness.
You are the one who made me become like this, succesful and happy.
Mom, Thanks.

Mom, thinking of you, wherever you are.
We pray for our sorrows to end, and hope that our hearts will blend.
Now I will step forward to realize this wish.
And who knows :
Starting a new journey may not be so hard,
Or maybe it has already begun.
We are far away now, but we share the same sky.
One sky,
One destiny.
So mom, although we're far away,
Please remember that we're still live in the same world,
that our hearts are connected.
And also,
Please believe that I
Won't disappoint you,
Will make you feel proud,
And will make you happy.

I know that you will always love me
because Mother's love to his son, is a true love.

Mom,
Forgive me,
Believe me,
and THANKS.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

- Arvin Ditto Amriza Amalsyah -
@ Bandung, 14th November 2010

Tatkala Anak Sulungku memasuki Usia ke-17 tahun...

Curhatkoe

Saat anakku yang paling besar memasuki usia 17 tahun, saat itu terjadi proses penyadaran dalam diriku. Betapa cepat waktu berlalu, berapa waktu lagi yang tersisa untukku...

Seketika itu juga ketakutanku akan hidupku muncul. Sampai kapankah aku akan “memiliki” dia ? Serasa baru kemarin aku menggendong-gendongnya... serasa baru beberapa minggu lalu aku hamil dan melahirkan dia... Rasanya baru semalam aku main lego dan mobil remote dengan dia... Tiba2 aku disadarkan pada kenyataan bahwa tahun depan dia akan meninggalkan bangku SMA dan memasuki bangku kuliahnya, untuk itu aku harus mempersiapkan segala sesuatunya sejak sekarang...

Rasanya baru beberapa hari yang lalu aku membopong tubuhnya mengarungi air yg bergelombang di kolam renang, namun pagi ini aku melihatnya berenang dengan cepat dan lincah membelah air kolam berbalut tubuh atletisnya yang kini sudah lebih tinggi daripada aku bahkan ayahnya juga... Serasa baru seminggu lalu aku mendorong dia yang duduk di atas kereta bayinya sambil aku belanja di supermarket, tapi tadi siang dengan sigap dia membantuku mendorong kereta belanja dan memasukkan sekarung beras yang kubeli ke dalamnya... Nampaknya baru kemarin aku membacakan dia buku-buku mengenal huruf dan angka, ternyata kusadari sore ini dia mengajariku menjelajah dunia maya dengan berbagai program dan aplikasi rumit yang tak kumengerti...

Proses penyadaran ini membuatku termenung dan memikirkan kembali apa saja yang sudah aku berikan untuknya, apakah caraku membimbingnya sudah benar, apa aku sudah melaksanakan kewajiban-kewajibanku untuknya dan memberikan hak-haknya, atau apakah aku pernah tanpa sengaja telah berbuat semena-mena terhadap dia dan telah membuat dia bersedih karenanya...

Sungguh, aku tak tahu dengan pasti semua jawaban pertanyaan itu. Mungkin hanya Allah yang mengetahuinya, berdasarkan laporan dari para “malaikat” penjagaku. Aku hanya bisa berdoa memohon segala kebaikan untuk putraku, di setiap desah nafas doa yang kupanjatkan kepada Sang Penciptaku...

Ya Allah, betapa sedihnya aku... menyadari bahwa waktu tak dapat kuputar kembali untuk menikmati masa kecilnya bersamaku... Semoga Engkau menjadikan dia sebagai hamba-Mu yang senantiasa takut, patuh, dan taat kepada-Mu, sehingga selalu Engkau bimbing dia menyusuri jalan yang Engkau ridhoi dalam rahmat dan kasih-sayangmu... Amin...


Palembang, 5 September 2008

Senin, Juni 07, 2010

Info Pencegahan Kanker Serviks Uteri

Beberapa waktu lalu, saya menerima informasi ini. Sekedar sharing, semoga bermanfaat. Terima kasih.

Tips Pencegahan KANKER SERVIKS UTERI :

- Tidur tidak usah memakai CD (Celana Dalam).
- Sehabis buang air kecil, keringkan dgn tissue.
- Ganti CD minimal 2x sehari.
- Ganti pembalut minimal 2x sehari.
- Hindari makanan/buah yg meningkatkan produksi lendir, seperti : Nanas, Kol, Timun, dsb.
- Jangan memegang VAGINA dgn kuku kotor.
- Jangan biarkan CD basah.
- Jangan melakukan SEX BEBAS.
- Jika memungkinkan, lakukan pemeriksaan USG/SCREENING UTERUS secara rutin. 

Sebarkan kepada semua wanita yg kamu sayangi...
Selamatkan PEREMPUAN..!!!

Minggu, Mei 02, 2010

Pendidikan Perlu Seimbang

Sriwijaya Post - 2 Mei 2010

BAGI ibu tiga anak ini, memasukkan anak ke sekolah Islam terpadu karena ingin mendapatkan nilai lebih. Bukan sekedar pendidikan umum yang diperoleh, tapi lebih dari itu bahwa penanaman tentang akhlak pun merupakan hal penting untuk menjadi benteng anak sejak dini dari pengaruh negatif. “Supaya punya dasar (fondasi) yang kuat. Apalagi tantangan pengaruh globalisasi sudah sangat cepat,” kata Kania Riffianti Amalsyah atau yang akrab disapa Riffi, Sabtu (1/5).

Ditemui ketika bersama putri bungsunya Amalia Shafa Amriza Amalsyah (Chacha), Riffi menyebutkan beberapa pertimbangan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah Islam terpadu. Seperti Chacha dipandang perlu mendapatkan keseimbangan antara pendidikan agama dan pengetahuan umum. Memilih sekolah Islam terpadu pun diakui Riffi dengan berbagai kriteria, seperti sarana dan kualitas sekolah yang memadai, juga karena adanya kegiatan ekstrakurikuler yang menunjang. Ibu setengah baya ini menambahkan, anaknya sekolah di SD Islam Terpadu Az- Zahrah Kompleks Poligon Bukit Sejahtera Palembang.

Anaknya Chacha mendapatkan pelajaran seperti pendalaman belajar Alquran, penguasaan bahasa Arab ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan keagamaan, akhlak dan budi pekerti sesuai ajaran Islam. “Secara tidak langsung pembekalan keagamaan sudah diperoleh anak di sekolah,” tambahnya. (safta)

Biodata
Nama Lengkap : Kania Riffianti Amalsyah, S.Sos.
Tempat/tgl Lahir : Semarang, 2 September 1969
Nama Suami : Kolonel Czi Amalsyah Tarmizi, S.IP.
Nama Anak :
1. Aji Bima Amriza Amalsyah (Bimbim), 5 September 1991, Semester 2 SAPPK ITB.
2. Arvin Ditto Amriza Amalsyah (Ditto), 8 Juli 1994, Kelas X-7 SMAT Krida Nusantara Bandung.
3. Amalia Shafa Amriza Amalsyah (Chacha), 9 Juni 2000, Kelas 4 Shiddiq SD Islam Az-Zahrah Palembang.

Fotografer : Syahrul Hidayat.
Lokasi Pemotretan : Kompleks Palembang Square Mall.

safta

http://m.sripoku.com/view/33942/pendidikan_perlu_seimbang

Selasa, Desember 16, 2008

Kata Bijak

"Bangun di kala fajar dengan hati seringan awan...
Mensyukuri hari baru nan penuh dengan cahaya cinta...
Istirahat di terik siang merasakan getar-getar cinta...
Pulang di kala senja dengan syukur sepenuh rongga dada...
Hanyut dalam doa bagi yang tercinta dalam sanubari...
Sebuah nyanyian syukur tersungging di bibir mungil..."

----- (Kahlil Gibran)

Kata Bijak

"Janganlah datang ke taman...
Dalam diri kita sudah ada taman...
Duduklah di atas pohon Lotus...
Temukan kebahagiaan di sana..."

(Kabir, seniman besar India)

Umroh Keluarga, Juli 2007

Ka'bah...

with my Chacha, waitin' 4 time of Isya, @ 2nd floor of Masjidil Haram

My hubby and Our Sons


Me and Chacha



@ Bir Ali, start to Umroh


di Kebun Kurma, Madinah

My Hubby and Me


My Family, in front of Masjid Quba


Bima (right) and Ditto (left), @ Masjid Nabawi


Look at my Dearest Daughter, Shafa or Chacha... :-)

Senin, Juli 28, 2008

Keputusan Fanny

- Cerita Pendek, oleh Riffi Amalsyah -
(Dimuat dalam Majalah "Kartika Kencana" Edisi 81/TH.XXV - Juli 2008)


Azan Subuh baru saja berlalu. Matahari belum lagi menampakkan sinarnya. Namun suasana di sekitar kolam telah terlihat dengan jelas. Garis-garis pepohonan tidak lagi tampak samar-samar dalam keremangan pagi sebagaimana biasanya. Gemercik suara air yang tercurah dari parit menuju kolam terdengar jelas di tengah sunyinya pagi. Belum banyak kendaraan bermotor melintasi jalan di sekeliling kolam, udara masih sangat bersih, segar, jauh dari polusi, benar-benar mengisi paru-paru sepenuhnya. Sungguh hari Minggu yang didambakan setiap insan.
Fanny baru berlari dua putaran mengelilingi kolam, dari lima putaran yang rutin ia lakukan. Seperti biasa, saat itu sekeliling kolam mulai dipadati oleh orang-orang dari berbagai golongan. Namun kali ini banyak terlihat pria berbadan tegap, dengan potongan rambut a la crew-cut. Melihat rambut tercukur pendek nyaris gundul dengan jambul berdiri di depan kepala seperti itu, ingatan Fanny kembali ke masa empat tahun yang lalu, ketika segala kenangan manis memenuhi kehidupannya, sampai suatu hari di dua tahun lalu berubah menjadi kenangan pedih. Susah untuk dilupakan.
Kala itu Fanny masih berstatus seorang mahasiswi Semester Tiga sebuah perguruan tinggi di Bandung. Selain kuliah, Fanny juga sibuk dengan kegiatannya sebagai aktivis LSM. Dari kegiatannya itu Fanny bertemu dan berkenalan dengan Garin, seorang anggota TNI AD salah satu Batalyon di Bandung. Hubungan mereka berlanjut dan menjadi pertalian kasih yang lebih dalam. Meskipun Garin berprofesi sebagai seorang prajurit dengan sifat pendiam, ia mampu menyelami pembawaan Fanny yang terbuka, lincah, dan tidak pernah berhenti berkreasi untuk menuangkan ide-idenya. Bahkan Garin pun banyak membantu Fanny untuk keperluan kuliahnya dengan membuka jalan memperluas relasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan bagi penelitiannya.
Enam bulan berlanjut, Fanny dan Garin memutuskan untuk memperdalam hubungannya melalui pertunangan. Satu bulan kemudian, Garin harus berangkat ke Ambon, memenuhi panggilan tugas profesinya. Fanny tak pernah menyangka bahwa kepergian Garin akan membuyarkan semua mimpi dan cita-cita yang telah disusun bersama Garin. Setahun kemudian - hanya sebulan lagi sebelum kembalinya Garin ke Bandung - suatu konflik yang terjadi antar kelompok yang bertikai di Ambon telah merenggut nyawa Garin ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Kehidupan yang harus Fanny jalani setelah peristiwa tersebut terasa amat berat, terlebih saat itu ia tengah menjalani tahap akhir penyelesaian skripsinya. Namun berkat dorongan kedua orang tua, saudara-saudara, dan teman-temannya, Fanny dapat menerima semua itu sebagai takdir yang harus diterima sebagai keputusan mutlak dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Hingga akhirnya Fanny dapat menyelesaikan kuliahnya.
Waktu demi waktu yang berlalu tak lagi memberikan kesempatan bagi Fanny untuk terus larut dalam kesedihan mengenang seorang pemuda yang begitu baik dan penuh pengertian dalam hubungan mereka yang manis. Segera setelah lulus Fanny langsung diterima bekerja sebagai seorang staf Humas pada sebuah perusahaan swasta di Palembang.
Seorang anak kecil yang menangis dan melintas di hadapannya membuyarkan lamunan Fanny. Ia segera menghentikan laju kecepatan larinya. Ah, dasar pelamun aku ini, sampai lupa suasana di sekitarku, katanya dalam hati sambil tersipu malu bercampur geli membayangkan apa yang terjadi jika ia sampai jatuh terjungkal akibat menghindari anak tersebut. Fanny memandang sekeliling dan tampak suasana makin ramai.
Ia lalu melangkah keluar dari lintasan jogging mendekati tepi kolam untuk melaksanakan tahap peregangan. Tiba-tiba seorang pria hampir terjungkal menjaga keseimbangan badannya agar mereka tak bertabrakan.
"Ooohh !!! Hati-hati…," Fanny setengah berteriak kepada pria itu.
Pria itu tampak berhasil menjaga keseimbangan badannya, lalu turut menepi dari trotoar menuju ke tempat Fanny berdiri.
Fanny memandangi dengan sedikit cemas, "Anda tidak apa-apa, kan ? Mmm… maaf, ya… saya…"
"Saya baik-baik saja, tidak apa-apa. Jangan kuatir," pria itu memotong kalimat Fanny sambil tersenyum.
Fanny masih merasa bersalah, "Betul…, tidak apa-apa ? Anu… Tadi… saya…"
"Sudahlah, saya tidak apa-apa kok. Lihat, badan saya masih utuh begini. Tidak ada yang pecah, kan ?" gurau pria itu sambil mengulurkan tangannya. "Kenalkan, nama saya Yudha. Boleh tahu namamu ?"
"Emmm… Saya Fanny…," Fanny menyambut uluran tangan Yudha dengan wajah tersipu malu. Kenapa sih, aku ini… seperti ABG saja…, kata Fanny dalam hatinya.
Sesaat mereka berdua hanya diam saling berjabat tangan dan saling memandang sambil mengatur nafas yang masih tersengal. Fanny merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Oh… Apa yang terjadi dengan diriku ini, tanya Fanny pada hatinya. Inikah yang namanya tertarik pada pandangan pertama ?
Yudha memecah keheningan, “Fanny… Memang sesuai dengan namamu, Fanny. Dalam Bahasa Inggris, 'funny' artinya lucu atau menyenangkan… ya, kan ?"
"Kalau Yudha… artinya perang, dong ?" Fanny menyahut tak mau mengalah.
"Ya… Mungkin juga itu yang diharapkan dari orang tua saya waktu memberikan nama. Dan ternyata, sekarang saya sering melaksanakannya, walaupun teori dan latihan lebih banyak daripada praktek."
"Oh… Kalau begitu profesi anda tentara, ya ?" Selintas Fanny teringat pada Garin.
Yudha mengiyakan. Percakapan terus berlanjut kepada identitas dan hal-hal lain hingga matahari telah menampilkan diri sepenuhnya.

*****

Yudha kini sering bertandang ke tempat tinggal Fanny di sebuah wisma yang disediakan oleh perusahaannya. Semula Fanny merasa ragu menerima kunjungan Yudha setiap malam Sabtu atau Minggu, namun ia tak dapat menolak, sebab ada sesuatu yang mengisi relung hatinya yang paling dalam, yang selama ini terasa kosong setelah kepergian Garin.
Fanny dan Yudha mengisi keakraban mereka dengan pergi menonton film di bioskop, makan di restoran, atau sekedar jalan-jalan berkeliling kota. Tak ketinggalan kebiasaan jogging setiap Minggu pagi. Kesendirian yang sebelumnya dijalani oleh Fanny, kini berubah menjadi kebersamaan yang menyenangkan.
Satu kali Yudha mengungkapkan perasaannya kepada Fanny. Yudha mengatakan, bahwa ia telah tertarik kepada Fanny sejak pertama mereka bertemu. Karena kedua orang tua masing-masing telah mengetahui hubungan yang mereka jalin, Yudha menyatakan sudah siap meminta orang tuanya di Jakarta untuk menemui orang tua Fanny di Bandung. Akan tetapi, Fanny selalu mengelak dengan alasan ia belum siap untuk melanjutkan hubungan mereka lebih jauh lagi. Fanny tidak berani mengungkapkan kekuatirannya jika harus kehilangan lagi seperti ketika ia kehilangan Garin. Fanny merasa lebih baik seperti ini saja. Namun Yudha tidak pernah memaksa. Fanny merasakan betapa Yudha sangat menghargai perasaannya.
Malam Minggu itu, seperti biasa Yudha mengunjungi Fanny lalu mengajak makan di restoran favorit mereka. Setelah pesanan datang, Yudha meraih dan menggenggam tangan Fanny di atas meja.
"Fan… Boleh aku bicara ?"
"Eh… Tentu boleh, dong. Sejak kapan kebebasan berbicara Mas Yud aku cekal ?" Fanny sengaja bercanda untuk menutup keterkejutannya. Hatinya berdebar-debar.
Yudha mempererat genggamannya, ia tambah bersemangat melihat wajah Fanny yang bersemu kemerahan. "Aku ingin, kamu tahu perasaanku. Sudah lama aku ingin mengatakannya lagi sejak kamu menolakku. Tapi sekarang aku tak peduli lagi apa alasanmu, Fan. Aku sayang kamu. Bukan hanya itu, tapi aku juga ingin kamu jadi pendamping hidupku."
Kalimat itu membuat jantung Fanny berdetak kencang, kebahagiaan seakan menyelimuti seluruh tubuh dan jiwanya. Mata indah Fanny membulat bersinar bersama senyumnya yang merekah. Ternyata ia laki-laki yang gigih dan tak kenal menyerah. Tapi bagaimana lagi caraku untuk menghindar darinya, pikir Fanny kebingungan mencari alasan yang tepat. Fanny masih belum berani mengambil keputusan.
"Tapi, aku…" jawab Fanny sekenanya.
"Ayo, katakan kalau kamu juga sayang aku," desak Yudha.
"Mas Yudha, aku 'kan sudah pernah bilang dulu…"
"Aku tidak percaya kalau kamu tidak sayang sama aku," Yudha terus menatap tajam pada mata Fanny. Ia mengeraskan genggamannya.
Fanny gugup dan mencoba menghindari tatapan mata Yudha. Tapi dengan genggamannya Yudha berhasil membuat Fanny kembali menatapnya.
"Iya, Mas… Sebetulnya aku juga sayang kamu. Tapi, aku… Aku… Eee... aku…" "Kenapa gadisku jadi gagu begitu ?" Yudha tersenyum geli melihat Fanny menjadi salah tingkah. "Ada sesuatu yang ingin kamu katakan ? Apa kamu ingin menyampaikan sesuatu yang belum pernah kamu ungkapkan ? Aku siap mendengar apa pun yang akan kamu utarakan, Fan… Setelah hubungan yang kita bina selama ini, masa sih, kamu masih belum bisa mempercayaiku ?"
Rentetan pertanyaan Yudha membuat Fanny semakin gugup. Ia bingung untuk menjelaskan hal sesungguhnya.
Melihat sikap Fanny demikian, Yudha melonggarkan genggaman tangannya perlahan-lahan.
"Aku tidak akan memaksamu, Fanny. Aku akan menunggu terus sampai kamu menjawab lamaranku. Yang penting, aku sudah tahu bahwa kamu menyayangi aku. Itu sudah cukup bagiku. Aku tidak akan memaksamu memberikan jawaban dengan tergesa-gesa. Aku tahu kamu perlu waktu. Sekarang makanlah dulu, tidak enak kalau sudah dingin."
Yudha menghela nafas lega walau tatapan matanya menjadi agak muram. Lalu ia menyantap makanan yang sudah tersedia.
Fanny tidak berkata apa pun. Ia juga segera memasukkan makanan ke dalam mulutnya, pikirannya menerawang jauh. Apakah aku sanggup menghadapi kehilangan kembali, seandainya suatu waktu Mas Yudha meninggalkanku karena tugasnya, hati Fanny pun resah.
Sementara itu, sosok Yudha yang selalu menunjukkan sikap santun, Yudha yang selalu bersabar hati dan menunjukkan sikap menghormati martabat dan harga dirinya sebagai wanita, terus berkelebat silih berganti dalam benak Fanny. Saat-saat Yudha menelepon mengingatkan Fanny akan kewajiban ibadahnya begitu menyenangkan. Sebenarnya, apa lagi yang menjadi keberatanku untuk menerimanya... tanya Fanny pada dirinya.
Mata Yudha terus melekat pada wajah ayu Fanny yang menunduk menikmati santapannya. Kekaguman akan kemandirian dan kedewasaan Fanny makin mendorong keinginan Yudha untuk mewujudkan hasrat menjadikan Fanny sebagai istrinya. Gemuruh di hati Yudha seakan ingin berteriak meyakinkan Fanny betapa ia sangat mengasihinya. Betapa ingin ia menggantikan dan mengisi tempat di hati Fanny yang dulu pernah diisi oleh seorang pria pada masa lalunya. Tapi Yudha menahan diri. Sifat ksatria yang mendarah-daging di tubuhnya membawanya pada sikap penguasaan diri. Aku harus sabar dan ksatria, katanya pada dirinya sendiri.
Melihat Fanny terus terdiam, hati Yudha menjadi iba. Ia lalu membuka percakapan memecah kebekuan, menanyakan kegiatan Fanny selama seminggu, dan terus bercerita seolah tak ada hal penting yang telah terjadi.

*****

Sepanjang malam itu Fanny gelisah. Terus terbayang seluruh percakapannya dengan Yudha. Terbayang lagi tatapan Yudha yang berbeda dari biasanya. Di benaknya berkecamuk banyak pertanyaan. Mengapa aku harus mengecewakannya ? Padahal sudah jelas aku juga mencintainya ? Apakah aku harus terus selamanya merasa ketakutan seperti ini ? Sampai kapan aku akan bertahan ? Bukankah setiap manusia telah ditentukan nasibnya oleh Sang Penciptanya sejak lahir ? Bukankah semua orang pasti akan meninggalkan dunia yang fana ini, tak peduli ia berprofesi sebagai apa pun ? Fanny berusaha bangkit.
Ah, aku tidak boleh begini terus. Aku harus tegar. Apapun yang akan terjadi kelak, aku serahkan saja pada Tuhan... Fanny menarik nafas dalam, ia memejamkan matanya. Ya Tuhan, bantulah aku menghadapi segala kehendak-Mu. Aku harus mengatakan perasaanku pada Mas Yudha. Bantulah aku untuk dapat mengatakan perasaanku yang sesungguhnya kepada Mas Yudha esok, pintanya dalam hati. Akhirnya Fanny tertidur bersama mimpi indahnya.

*****

Keesokan harinya, Minggu pagi, seperti biasa mereka bertemu di 'Kambang Iwak' – kolam ikan, lokasi olah raga tempat pertemuan pertama – untuk jogging bersama. Saat istirahat, mereka duduk di tepi kolam sambil memperhatikan anak-anak yang tengah mencari ikan menggunakan jala kecil.
"Fan… Kamu sedih tidak, kalau aku harus meninggalkan kota ini untuk beberapa bulan lamanya ?" Yudha memecah keheningan.
"Maksud Mas Yud… ?" Fanny agak terkejut.
"Aku mendapat tugas berangkat ke daerah rawan di Papua, Fan. Lamanya enam bulan. Kalau ada apa-apa, ya jadi satu tahun. Kalau tambah gawat, ya dua tahun. Dan kalau betah, ya tidak pulang-pulang," Yudha tersenyum-senyum melihat ekspresi wajah Fanny yang terkejut.
"Kapan Mas Yudha berangkat ?" Fanny bertanya dengan cepat.
"Sesegera mungkin, Fan. Begitu ada perintah, kami langsung berangkat. Bisa minggu ini juga, bisa bulan depan, bahkan bisa juga nanti malam," jawab Yudha sambil tersenyum lebar.
"Mas Yud jangan bercanda, ah…" Fanny tampak gusar.
"Aku tidak bercanda. Aku serius nih, dua rius malah. Kalau kamu mau, sepuluh rius juga boleh," canda Yudha.
"Kenapa mendadak, Mas ?" tanya Fanny. Tanpa disadari ekspresi wajahnya menunjukkan luka dan kepedihan.
"Di lingkungan tentara itu tidak ada yang serba mendadak, Fan. Semua sudah direncanakan, jadi aku sebagai prajurit harus selalu siap menerima tugas apa pun yang diperintahkan. Sebetulnya aku ingin mengatakannya tadi malam, tapi… ya, kamu tahu sendiri ‘kan ? Jadi…, " Yudha membiarkan kalimatnya menggantung.
"Jadi, apa… ?" suara Fanny terdengar gusar.
"Jadi, bagaimana dengan hubungan kita ? Aku harus bagaimana ?" suara Yudha terdengar menggoda.
Seketika Fanny mengerti dan balas menggoda, "Iya, yaa… T'rus, aku juga harus bagaimana ?"
Yudha balik terkejut, tidak menyangka jawaban Fanny. Hatinya mulai gusar dan wajahnya kaku. Fanny tergelak.
"Kamu jangan menyiksaku dong, Fan…" Yudha memelas.
"Aku akan menunggumu di sini, Mas. Apa pun yang akan terjadi," jawab Fanny tegas.
"Sungguh ? Bagaimana kalau aku pulang nanti kamu sudah punya pacar baru ? Waktu kulamar kemarin saja kamu tidak menanggapinya."
Fanny tersenyum lembut, "Mas Yud… Aku sudah berpikir semalaman, aku akan menerimamu apa adanya."
"Betul, kamu mau jadi istriku ? Betul, Fan ?" suara Yudha meninggi kegirangan.
"Ya betul, dong… Kalau Mas Yud tidak percaya, ya sudah…," Fanny tersenyum-senyum.
"Eh, eh… Tidak, aku percaya. Aku percaya," ucap Yudha seakan takut Fanny meralat ucapannya.
"Semua sudah aku pikirkan, Mas. Tapi sekarang aku ingin berterus terang dulu kepada Mas Yudha …"
Fanny selanjutnya mengungkapkan sebab kegalauan hatinya tentang rasa kuatir kehilangan lagi seseorang yang dicintainya … Akhirnya Fanny menghela nafas panjang, "Sekarang Mas Yud mengerti, 'kan ?"
"Iya, aku mengerti Fan. Tapi kamu jangan kuatir, aku akan selalu berusaha menjaga diriku baik-baik selama bertugas. Itu juga pasti yang dilakukan oleh Garin dulu, tapi Tuhan berkehendak lain. Makanya… kamu harus rajin-rajin berdoa buatku, dong. Nah… Sekarang, dengan adanya rencana keberangkatanku ke Papua, bagaimana perasaanmu ?" tanya Yudha kembali.
"Aku ikhlas, Mas. Ternyata, selama ini aku tuh kurang keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Berkehendak. Kalau memang jodoh, kita pasti bisa bersama sampai kapan pun. Iya, kan ?"
Yudha tersenyum lalu merengkuh gadis itu dalam rangkulannya. "Terima kasih, Fan… Sekarang, boleh aku memelukmu ? Sedikit saja, kok."
Meski malu, Fanny tak kuasa menolaknya …

*****

Suara gamelan yang terdengar dari luar rumah mulai berkumandang, menandakan rombongan pengantin pria telah datang. Kicauan burung-burung di atas dahan pohon sekeliling rumah orang tua Fanny seakan memberi tanda bahwa cuaca kota Bandung saat itu begitu cerah. Untaian dan harum bunga melati menghiasi sanggul Fanny yang tengah bersiap menyambut saat-saat bersejarah dalam hidupnya.
Sebentar lagi, Yudha akan mengucapkan janjinya dalam akad nikah mereka. Enam bulan berlalu setelah penantian Fanny akan kembalinya Yudha dari medan tugas, ternyata tidak meruntuhkan ketegaran hati Fanny dalam menyongsong masa depan bersama Yudha kelak.
Senyum penuh kebahagiaan mengembang di sudut bibir Fanny ketika melihat kehadiran Yudha yang tengah menatapnya sambil memasuki ruangan – menambah keindahan wajah Fanny. Fanny menyadari, apa pun yang akan terjadi, dengan kepasrahan yang dalam, maka setiap manusia akan sanggup menerima segala kehendak-Nya.
Bersama tekad itu, Fanny menyambut kedatangan Yudha untuk bersama menuju meja upacara pernikahan …


************************


(Palembang, 1 Desember 2000)