Tampilkan postingan dengan label Lampung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lampung. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 28, 2015

Bandar Lampung


Bandar Lampung merupakan pusat jasa, perdagangan, dan perekonomian di provinsi Lampung., sebuah kota terbesar di provinsi Lampung yg menjadi pintu gerbang utama pulau Sumater sebagai jalur transportasi darat aktivitas pendistribusian logistik dari Jawa menuju Sumatera maupun sebaliknya.

Kota Bandar Lampung memiliki luas wilayah daratan 169,21 km² yang terbagi ke dalam 20 Kecamatan dan 126 Kelurahan dengan populasi penduduk 1.251.642 (data disdukcapil kota Bandar Lampung, maret 2014)

Sejarah Kota Bandar Lampung
Zaman prakemerdekaan Indonesia.

Wilayah Kota Balam, pada zaman kolonial Hindia Belanda termasuk wilayah Onder Afdeling Telokbetong yang dibentuk berdasarkan Staatsbalat 1912 Nomor : 462

Sebelum tahun 1912, Ibukota Telokbetong ini meliputi juga Tanjungkarang yang terletak sekitar 5 km di sebelah utara Kota Telokbetong (Encyclopedie Van Nedderland Indie, D.C.STIBBE bagian IV).

Ibukota Onder Afdeling Telokbetong adalah Tanjungkarang, sementara Kota Telokbetong sendiri berkedudukan sebagai Ibukota Keresidenan Lampung. Kedua kota tersebut tidak termasuk ke dalam Marga Verband, melainkan berdiri sendiri dan dikepalai oleh seorang Asisten Demang yang tunduk kepada Hoof Van Plaatsleyk Bestuur selaku Kepala Onder Afdeling Telokbetong.

Pada zaman pendudukan Jepang, kota Tanjungkarang-Telokbetong dijadikan shi (Kota) dibawah pimpinan seorang shichō (bangsa Jepang) dan dibantu oleh seorang fukushichō (bangsa Indonesia).

Zaman Pasca Kemerdekaan Indonesia

Setelah kemerdekaan RI kota Tanjungkarang dan Kota Telokbetong mjd bagian dr Kab Lampung Selatan.
Setelah terbitnya UU No 22 tahun 1948 yang memisahkan kedua kota tersebut dari Kabupaten Lampung Selatan. Lalu dikenal dengan nama Kota Tanjungkarang-Telukbetung.

Selanjutnya berdasarkan Undang-Undang Nomor : 18 tahun 1965, Keresidenan Lampung dinaikkan statusnya menjadi Provinsi Lampung. Kota Tanjungkarang-Telukbetung berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Tanjungkarang-Telukbetung dan sekaligus menjadi ibukota Provinsi Lampung.

PP No 24 tahun 1983, Kotamadya Daerah Tingkat II Tanjungkarang-Telukbetung berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Bandar Lampung.

Kemudian berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 43 tahun 1998 tentang perubahan tata naskah dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II se-Indonesia.

Lalu ditindaklanjuti dengan Keputusan Walikota Bandar Lampung nomor 17 tahun 1999 terjadi perubahan penyebutan nama dari “Pemerintah Kotamadya Daerah Tingkat II Bandar Lampung” menjadi “Pemerintah Kota Bandar Lampung”.

Ulang Tahun Kota Bandar Lampung diperingati setiap tgl 17 Juni.
Hal ini berdasarkan sejarah bahwa terdapat catatan :

1. Laporan dari Residen Banten William Craft kepada Gubernur Jenderal Cornelis yang didasarkan pada keterangan Pangeran Aria Dipati Ningrat (Duta Kesultanan) yang disampaikan kepadanya tanggal 17 Juni 1682 antara lain berisikan: “Lampong Telokbetong di tepi laut adalah tempat kedudukan seorang Dipati Temenggung Nata Negara yang membawahi 3.000 orang”
Maka hasil simposium Hari Jadi Kota Tanjungkarang-Telukbetung pada tanggal 18 November 1982 serta Peraturan Daerah Nomor 5 Tahun 1983 tanggal 26 Februari 1983 ditetapkan bahwa hari Jadi Kota Bandar Lampung adalah tanggal 17 Juni 1682.

Perubahan jumlah kecamatan
1. UU No. 5 tahun 1975 dan PP No. 3 tahun 1982 tentang perubahan wilayah, maka kota Bandar Lampung diperluas dengan pemekaran dari 4 kecamatan 30 kelurahan menjadi 9 kecamatan 58 kelurahan.

2. Kemudian SK Gubernur No. G/185.B.111/Hk/1988 tanggal 6 Juli 1988 serta surat persetujuan Mendagri nomor 140/1799/PUOD tanggal 19 Mei 1987 tentang pemekaran kelurahan di wilayah kota Bandar Lampung, maka kota Bandar Lampung terdiri dari 9 kecamatan dan 84 kelurahan.

3. Pada tahun 2001 berdasarkan Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung No. 04, kota Bandar Lampung menjadi 13 kecamatan dengan 98 kelurahan.

4. Pada tanggal 17 September 2012  di Kelurahan Sukamaju, diresmikanlah kecamatan dan kelurahan baru di wilayah kota Bandar Lampung sebagai hasil pemekaran sesuai dengan Peraturan Daerah Kota Bandar Lampung Nomor 04 Tahun 2012 tentang Penataan dan Pembentukan Kelurahan dan Kecamatan. Kota Bandar Lampung menjadi 20 kecamatan dengan 126 kelurahan.

Kota Bandar Lampung terdiri dari 20 kecamatan dengan 126 kelurahan.

7 kecamatan baru hasil pemekaran terdiri dari :
Kecamatan Labuhan Ratu pemekaran dari Kecamatan Kedaton.
Kecamatan Way Halim dari sebagian wilayah Kecamatan Sukarame dan Kedaton yang dipisah menjadi suatu kecamatan.
Kecamatan Kemiling pemekaran dari Kecamatan Tanjung karang barat.
Kecamatan Langkapura pemekaran dari Kecamatan Kemiling.
Kecamatan Enggal pemekaran dari Kecamatan Tanjungkarang Pusat.
Kecamatan Kedamaian pemekaran dari Kecamatan Tanjungkarang Timur.
Kecamatan Telukbetung Timur pemekaran dari Kecamatan Telukbetung Barat.
Kecamatan Bumi Waras pemekaran dari Kecamatan Telukbetung Selatan.


- Dari berbagai sumber -

Minggu, Februari 23, 2014

Mendemokratiskan Demokrasi

Forwarded dari teman, 22-2-2014 :

Mendemokratiskan Demokrasi!!!

Demokrasi itu nyata, dia bukan di ruang hampa. Demokrasi tidak diam, dia harus digerakkan agar menjadi lebih demokratis. Menjadi tugas sejarah bagi kita untuk mendemokratiskan demokrasi!

Adakah tokoh yg berupaya mendemokratiskan demokrasi? Hari ini ditemukan jawabannya! Apa yg dilakukan Amalsyah dgn menarik berkas pendaftaran Cagub menjadi pelajaran berharga bagi kita. Cukup! Sudah cukup Amalsyah dipermainkan oleh KPU!
Kemarin KPU berulah lagi dgn mempermainkan 4 pasangan Cagub dan Cawagub!

Amalsyah benar! Langkah politiknya jika diikuti oleh pasangan lain maka selesai sudah permainan KPU! Tapi apakah ada Cagub lain yg berani berkorban seperti Amalsyah?
Jika masih berfikir untung rugi dan belum seberani Amalsyah harus kita maklumi, karena Tuhan tidak melahirkan sosok pemimpin secara massal.

Jangan berkecil hati dgn pasangan Cagub yg tetap memasang badan utk terus dipermainkan KPU. Saling mendoakan adalah jalan keluar terbaik, semoga 4 pasang Cagub lainnya bisa mengikuti jejak Amalsyah.
Damai itu Indah.

Novelia Yulistin
085368681001

Sabtu, Januari 04, 2014

Dari SaHaBAT utk Amalsyah Tarmizi

Dari SaHaBAT untuk Amalsyah Tarmizi
- oleh : Rosim Nyerupa AR

Jangan pernah menyerah di tatanan "damai itu indah". Tetap semangat, Kanjeng... saya yakin Allah selalu bersama kita di setiap langkah baik kita.

Kami akan terus berusaha memperjuangkan tujuan dan niat baik kita untuk Lampung, walaupun banyak rintangan yang hampir menyertai di setiap langkah kita; perjalanan yang begitu panjang yang sering diremehkan orang yang tidak sejalan dengan kita.

Semangat, Kanjeng Amalsyah. Tetaplah tersenyum, karena senyumanmu adalah pupuk semangat kami ketika kami merasa lelah di tengah teriknya mentari yg menyinari sandiwara dunia ini.

Sebuah bilahan bambu yang jadi senjata kita. Sebuah pedang yang tajam terbuat dari bambu-bambu harapan masyarakat Lampung untuk kita melawan rintangan rintangan yang ada.

Semangat, Kanjeng Amalsyah.
Biarkanlah mereka mau seperti apa, kita lanjutkan perjuangan pahit kita demi sebuah Provinsi yang miskin ini.
Demimu, Kanjeng amalsyah, karena Lampung membutuhkanmu.

Ketika suasana lawan agak kuat, jangan jadikan penyakit perjuangan kita. Allah tahu siapa yg sebenarnya mempunyai tujuan yang tulus dan ikhlas... Kami berharap Tuhan memberikan jalan terbaik untuk kita, berharap Tuhan membuka hati masyarakat Lampung agar tidak terbuai dan tertipu daya oleh sandiwara mereka.
Dan berharap Tuhan memberikan secercah harapan untuk kita mengarungi Bumi Lampung Sai ini.

"Ya Allah.. Semua ini pada akhirnya Engkau yang memutuskan. Izinkan kami,dengarkan kami, dan bimbinglah kami."

Untuk para SaHaBAT, tetap semangat berjuang. Asah tajam-tajam bambu runcing kita agar langkah perjuangan kita semakin menajam dan mampu mengalahkan lawan yang memakai senjata api, lawan yang memakai senjata bom, atau lainnya.
Saya yakin jika frekuensi kita selalu senada, pasti kita akan mampu mengeluarkan mentari yang hangat untuk masyarakat Lampung.

Garis perjuangan kita masih panjang. Sebuah pesta yg tidak jelas dengan sengaja dipermainkan oleh pihak yg punya kepentingan. Mari kita dorong, walaupun itu batu yang menghadang niat tulus kita. Yakin Allah selalu bersama kita, menemani di setiap langkah kita.

Akhirnya dengan setetes air mata harapan yg diharapkan masyarakat Lampung dapat memberikan kedamaian di Bumi Ruwa Jurai ini, semangat.

Salam "damai itu indah" dari kami pemilih cerdas AMAL berGUNA.

DAMAI ITU INDAH

http://rosimoke.blogspot.com/2014/01/dari-sahabat-untuk-amalsyah-tarmizi.html?m=1

Senin, Desember 23, 2013

Kampanyekan Gerakan Pemilih Cerdas

Redaksi | Rajabasa News |
Minggu, 05 Januari 2014 | 18:09 WIB

Riffi Amalsyah, Kampanyekan Gerakan Pemilih Cerdas

RBN, Bandar Lampung –
Kania Riffianti Amalsyah, S.Sos. yang akrab dipangil Ibu Riffi, saat ini beliau sedang menyelesaikan S2-nya di Universitas Bandar Lampung. Ibu 3 orang anak ini sangat semangat dan aktif mendampingi sang suami Bapak Amalsyah Tarmizi, yang saat ini merupakan Calon Gubernur Lampung dari Jalur Independent.

Selama terlibat dalam aktivitas Pemilihan Gubernur Lampung beliau bertemu, mendengar, dan berdiskusi tetang problem-problem masyarakat Lampung. Problem pokoknya adalah masyarakat harus memiliki solusi atas problem kemiskinan dan problem rasa aman yang semakin menurun. Sedangkan berbagai solusi yang ditawarkan tokoh lain dan ini seolah menjadi realitas, bahwa kemenangan dalam pemilihan gubernur Lampung ini ditentukan oleh seberapa banyaknya modal dan keberanian untuk melakukan politik sogokan kepada rakyat.

Ibu Riffi justru menemukan masih banyak masyarakat Lampung yang tegas menolak politik sogokan, hingga beliau bersama masyarakat melakukan Gerakan Politik Cerdas dan Menolak Politik Sogokan.
Sikap pragmatis yang sedang menjadi fenomena di tengah masyarakat, bukanlah merupakan kesadaran sejati masyarakat Lampung.
“Saya menemukan fakta bahwa masyarat tidak sebodoh itu, masyarakat masih memiliki hati nurani. Buktinya mereka secara sadar setiap hari dan tanpa henti selalu bekerja keras untuk kehidupannya. Justru elit politiklah yang meracuni sikap bersih masyarakat ini dengan sogokan. Jadi kami menghimbau agar Gerakan yang kami tawarkan ini dapat didukung seluruh lapisan masyarakat,” ujar Ibu Riffi.

“Gerakan pemilih cerdas dan tolak politik sogokan akan berhasil bilamana melibatkan masyarakat secara luas. Gerakan ini memerlukan partisipasi masyarakat secara aktif, perlu keyakinan bahwa apa yang kita lakukan ini benar. Bahwa Lampung harus dirubah secara bersama-sama, dalam rangka meningkatkan kesejahteraan dan memastikan rasa aman yang hadir di tengah masyarakat.
Selamat Hari Ibu dan Damai Itu Indah,” pesan beliau untuk kita semua. (red)

BIODATA

Nama : KANIA RIFFIANTI AMALSYAH, S.Sos.
Nama panggilan : RIFFI
Tempat, tgl lahir : Semarang, 2 September 1969
Agama : Islam

Nama Suami : Kolonel Czi. Amalsyah Tarmizi, S.IP.
Anak-anak :
1. Aji Bima Amriza Amalsyah (22 Tahun), Semester 9 Teknik Arsitektur ITB, Bandung.
2. Arvin Ditto Amriza Amalsyah (19 Tahun), Semester 3 Teknik Elektro ITERA, Bandung.
3. Amalia Shafa Amriza Amalsyah (13 Tahun), Kelas 8 SMP 2 Bandar Lampung.

Riwayat Pendidikan :
S-1 Jurusan Ilmu Ilmu Komunikasi (Fikom) Univ. Padjadjaran (Unpad) Bandung 1994.
Saat ini kuliah di Magister Manajemen Univ. Bandar Lampung (UBL).

TopCopyright © 2013 RBNC Mobile | Manage by : Webkito.net

http://www.rajabasanews.com/20131222/riffi-amalsyah-kampanyekan-gerakan-pemilih-cerdas/

Selasa, September 10, 2013

Minggu, Januari 08, 2012

AMALSYAH TARMIZI - Tokoh Lampung

Tokoh Lampung

 

(Sosok, Kiprah, Wawancara, Obituarium)

  1. Kolonel Czi. Amalsyah Tarmizi
    Danrem 043/Garuda Hitam Lampung



    KONDISI bangsa yang hiruk-pikuk oleh politik dan maraknya kriminalitas, rakyat merasa rindu kehadiran TNI. Itu tecermin dari banyaknya pernyataan “enakan zaman Pak Harto. Aman”. Kini, kerinduan rakyat ditemukan kembali dalam banyak kegiatan sosial kemasyarakatan yang digelar TNI.

    Peta keamanan dan gangguan ketertiban masih melekat di Provinsi Lampung. Berbagai insiden dan kriminalitas terus terjadi di berbagai sudut daerah dan melukai rasa aman warga. Padahal, polisi sudah berupaya keras untuk mengantisipasi dan menindak pelaku.

    Dalam rasa waswas yang tak kunjung terobati, berbagai cara dilakukan warga. Dari melakukan siskamling, mempersenjatai diri, menghindari daerah-daerah terindikasi rawan kejahatan, hingga sekadar mengeluh. Saat keluhan tak mendapat jawaban, warga mulai menghela napas seraya berkata; “enakan zaman Soeharto, ya. Aman!”

    Saat itu, TNI aktif ikut berperan di masyarakat dengan dwifungsi ABRI. Kini, melalui undang-undang, tentara ditarik ke barak dan menjalankan fungsinya sebagai instrumen pertahanan. Maka, tak jarang warga awam menyebut TNI sudah tidak peduli rakyat lagi.

    Bagaimana sebenarnya posisi TNI di tengah masyarakat? Berikut petikan wawancara wartawan Lampung Post Iskandar Zulkarnain dan Sudarmono dengan Danrem 043/Garuda Hitam Kolonel Czi. Amalsyah Tarmizi, Selasa (3-1).

    Lampung hari ini masih berkabung dengan desas-desus kasus Mesuji. Kriminalitas, terutama begal motor, seperti tren di beberapa daerah. Polisi seperti tidak sanggup. Bagaimana peran TNI di sini?


    Baik. Kita tahu, sejak reformasi, TNI dan Polri kan dipisah. Dengan undang-undang itu, tugas masing-masing sangat jelas. Oleh karena itu, TNI bukan tidak peduli dengan kondisi ini, tetapi pemilahan tugasnya sudah berbeda. Polisi menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, sedangkan TNI bertugas sebagai pertahanan dan pengamanan negara dalam arti luas.

    Saat ini rakyat rindu dengan kehadiran TNI dalam rangka membantu keamanan. Apa tidak dimungkinkan TNI berperan lagi?


    Untuk menjadi kesadaran bersama, keamanan dan ketertiban adalah tugas kita bersama seluruh elemen bangsa ini. Ini bukan tugas polisi saja. Posisi TNI hampir sama dengan warga lain. Tetapi, sebagai warga yang memiliki kemampuan dan difasilitasi negara dengan instrumen pertahanan, TNI wajib mengambil peran yang lebih besar ketimbang warga sipil.

    Saya sebagai tentara dan juga anggota lainnya, jika menemukan aksi kriminalitas di berbagai tempat, ya kami tangkap. Setelah itu, kami serahkan kepada polisi untuk diproses hukum. Tetapi kalau kami menyengaja mengejar penjahat, itu jadi tidak tepat dengan tugas dan fungsinya.

    Apa pun, rakyat ingin rasa aman itu pulih. Apa yang bisa dilakukan TNI untuk membantu?


    TNI dalam satu wilayah, tugas utamanya adalah pertahanan. Namun, TNI adalah salah satu institusi pembina teritorial. Oleh karena itu, kami juga selalu ingin mendekat kepada masyarakat dengan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Intinya, kami ingin menjadi bagian dari masyarakat. Makanya, di sini kami punya program ke depan, Memasyarakatkan Korem 043/Gatam. Tujuannya agar antara TNI dan rakyat menyatu dalam kebaikan.

    Apakah ini akan punya dampak munculnya rasa aman?


    Kami punya keyakinan seperti itu. Hadirnya anggota TNI di tengah masyarakat secara kasat mata pasti akan memberi efek segan kepada orang yang mempunyai keinginan jahat. Itu pasti. Sebagai contoh, kalau ada tentara mengobrol dengan warga di pos ronda atau di tempat lain, misalnya, pasti akan merasa lebih aman.

    Tetapi bisa sebaliknya, muncul rasa takut warga karena curiga ada apa?


    Iya, kalau tentara satu peleton. Itu mungkin yang dicurigai para aktivis. Makanya, sekarang kehadiran TNI di tengah masyarakat lebih bersifat kegiatan sosial. Itu untuk mengantisipasi kesan buruk yang mungkin muncul saat kehadiran TNI.

    Untuk masyarakat ketahui, kami jajaran Korem Garuda Hitam terus mendukung dan berperan aktif dengan program-program yang sejalan dengan pemerintah. Isu lingkungan hidup yang saat ini tengah digalakkan, kami berencana menanam 10 juta pohon di Lampung.

    Di Lampung ada hampir seribu babinsa (bintara pembina desa). Setiap babinsa akan menggerakkan warga untuk menanam 10 ribu pohon. Jadi, pada saatnya nanti tertanam 10 juta pohon.

    Banyak lagi kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan. Ada program TNI Masuk Masjid. Ini nama program saja. Bagi anggota yang beragama lain, tentu ke tempat ibadah sesuai keyakinannya. Dan masih banyak lagi untuk lebih dekat lagi dengan masyarakat. Sementara program TNI Manunggal KB dan Kesehatan seperti yang selama ini ada tetap diteruskan.

    Kalau rencana strategi Anda untuk Korem Gatam apa?


    Ada istilah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Saya orang Lampung, saat bertugas di Bandung, saya ngomong Sunda. Saat studi di Akabri di Magelang, saya berusaha keras untuk bisa ngomong Jawa. Di Palembang lebih mudah. Apalagi di Lampung, tanah kelahiran. Jadi, saya bekerja selalu harus dalam suasana yang menyenangkan. Dan untuk membangun suasana menyenangkan, kita harus sesuaikan dengan lingkungan.

    Strategi ke dalam?

    Secara fisik, kantor dan lingkungan instalasi militer ini harus dirawat dan diperbaiki. Kedua, mentalitas prajurit TNI harus menjadi teladan atau contoh. Saya punya target, nol kesalahan dalam tugas. Kalau istilah dunia kerja, zero accident. Saya tidak toleransi anggota yang melanggar. Jangan pernah ada dan terjadi konflik antara TNI dan polisi, apa pun alasannya. Sebab, peristiwa seperti itu adalah kabar paling memalukan di hadapan rakyat. Tidak ada anggota TNI terlibat kriminal, tidak ada beking-beking, tidak ada pelaku maksiat. Itu tidak saya toleransi.

    Strategi ke luar?


    Ya, sebagai salah satu lembaga pembina teritorial, kami terus menjalin hubungan harmonis dengan pejabat pemda untuk memadukan setiap program. Intinya, kami ingin dan harus dekat dengan masyarakat. Dengan demikian, kami ingin punya manfaat dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. n




    Filosofi ‘Esem Bupati’

    RUANG kerja Komandan Korem 043/Garuda Hitam Lampung, Selasa (3-1). Lima perwira di kesatuan itu mendampingi Kolonel Czi. Amalsyah Tarmizi diwawancarai Lampung Post. Dengan uniform lengkap, mereka takzim mendengar dan siap dengan segala kemungkinan menyampaikan pernyataan dan data.

    Wawancara belum dimulai, tetapi orang nomor satu di jajaran TNI AD Lampung itu sudah membuka dengan cerita tentang kondisi kesatuan, tugas-tugas, dan strateginya. Ya, lebih terasa sebagai cerita berhikmah dan obsesi yang kuat untuk menyempurnakan tugas ketimbang disebut sebagai statement seorang Danrem. Sebab, nadanya santai, joke-joke bertebaran, filosofi-filosofi bermunculan, dan sering diakhiri dengan tawa lebar.

    Anak kedua dari delapan bersaudara Tarmizi Nawawi dan Rosmaniar ini memang bukan prajurit biasa. Meskipun sudah berpangkat kolonel pada usia 48 tahun dan menjadi komandan korem, ia adalah serdadu yang hampir selalu bersentuhan dengan masyarakat sepanjang masa tugasnya.

    Bahkan, pernah tersirat melepas status TNI-nya gara-gara keasyikan menjadi manajer Sriwijaya FC di Palembang.

    Wawancara dengan bapak tiga anak ini memang tidak seperti konfirmasi dengan petinggi militer. Ditanya soal strategi memimpin tentara, dengan ringan dia memberi satu jawaban. "Ya, enggak usah marah lah. Begitu saja!" kata dia.

    Soal jawaban ini, anak mantan asisten Pemprov Lampung zaman pembentukan provinsi ini memegang teguh kearifan Jawa. Dengan lancar dia menyebut filosofi stratifikasi sikap dalam bahasa Jawa.

    "Ada tiga tingkatan. Pertama, esem bupati. Kedua, sopo mantri. Dan ketiga, dupak kuli. Esem bupati itu artinya senyum seorang bupati yang dilambangkan sebagai pimpinan. Sopo mantri artinya sapaan mantri yang bermakna sesama. Sedangkan dupak kuli itu artinya tendang buruh. Nah, sebagai pimpinan tidak perlu kita marah. Cukup senyum sinis saja, seharusnya staf sudah paham. Jangan seorang pemimpin memberi arahan kepada staf seperti kepada kuli, harus pakai didupak. Nah, sebaliknya, bawahan juga harus mengerti filosofi ini. Jadi, kita enggak perlu marah-marah, asal saling tahu posisi," kata Amalsyah.

    Profil tentara yang garang memang tampak para performanya. Namun, meskipun orang tuanya bukan prajurit, Amalsyah lahir dalam keluarga besar TNI yang berkarier tinggi. Saat lahir pada 10 Juni 1962, orang pertama yang menyambut dengan kumandang azan adalah Letkol Abdul Gani. Ia adalah paman yang bertugas sebagai pengawal presiden dan baru saja pulang mengawal Soeharto bertugas di Irian Jaya. “Pas hari kelahiran saya itu juga Jenderal Gatot Soebroto meninggal dunia. Maka, paman dan ayah saya bilang anak ini akan jadi tentara nanti,” kata Amalsyah menirukan cerita ibundanya soal kelahirannya.

    Suasana sipil yang melekat dalam kepemimpinan Amalsyah memang tak lepas dari tugasnya selama menjadi tentara. Alumnus Akabri 1985 ini sejak menjadi perwira lebih banyak bertugas bersentuhan dengan masyarakat. Zaman dwifungsi ABRI, ia sempat ditempatkan di kantor Sospol. Bahkan, kedekatannya dengan dunia olahraga mengantarkan putra Lampung kelahiran Jakarta itu dua kali menjadi komandan kontingen PON Sumatera Selatan.

    “Terakhir, saya menjadi manajer Sriwijaya FC Palembang. Saya sempat bersama Rahmad Darmawan mengantar Sriwijaya FC meraih prestasi nasional. Pergaulan yang tulus yang membuat saya bisa seperti ini,” kata dia. (SUDARMONO)


    BIODATA

    Nama : Kolonel Czi. Amalsyah Tarmizi, S.I.P.
    Kelahiran : Jakarta, 10 Juni 1962
    Istri : Kania Riffianti, S.Sos.
    Anak :
    1. Aji Bima Amriza
    2. Arvin Ditto Amriza
    3. Amalia Shafa Amriza

    Pendidikan :
    - SD Teladan Tanjungkarang (1974)
    - SMPN 2 Tanjungkarang (1977)
    - SMAN 2 Tanjungkarang (1981)
    - Akabri Magelang (1985)
    - Universitas Terbuka (1986)


    Sumber:
    Wawancara, Lampung Post, Minggu, 8 Januari 2012