Kamis, April 28, 2011

E-Mail for My Son

Assalamu'alaikum wrwb.

Hello, Son.
Alhamdulillah, i am fine.
We are all fine, here.
I am glad you are alright...

My dearest son,

Thank you so much for the letter,
the words you said from deep in your heart just for me.
It makes me so happy, you know.
I am glad that you always thinking of me, your mother, as i always do...

Thanks to Allah, that I have you in my world.
You are the best and the most beautiful gift I ever have in my life.
You are my daily sunshine, that always give a guidance for me
to walk on my path so I always be strong to face my life.
You are my inspiration,
so I can do everything
that makes my life so beautiful and full of happiness.
You are my thoughts when I am awake
and you are my dreams when I am sleep...

I do not mind if you always make phone calls for me everytime you want to.
But I am truly sorry if sometimes I did not answer your phone calls,
because at the same time I had another works to do or just asleep.
You know, just hear your voice on the phone,
it makes all of my sadness or problems disappeared.
So call me as often as you can, Dear.
I miss you all the time...

Be sure, that I always pray for you.
Your name always be in my pray,
every night and day,
I send my love for you.
Whatever mistakes you've ever had,
it will be disappeared by every pray I ask Allah for you.
A mother always forgive her son, and so do I...

If I was angry with you,
it's all because I care for you.
I want you to be the best, that's all.
So I am so sorry if I ever make you disappointed,
because I only want the best for you.
I hope you can understand about this matter wisely...

If I was happy, it's all because of you.
You know, I always miss your funny smile.
I miss your laugh, I miss your jokes.
I miss your handsome face,
I miss your style as my bodyguard... ;-)

My lovely son, do whatever you wanna do.
Make all your dreams come true.
Believe me, I will always support you with all my heart.
Eventhough I feel sad because you are far away from me,
but I am sure that you will always make me proud
for whatever you've done in your life...

Always be a good son for us, as you always do.
Remember the advice from your father,
to : "make honesty as a leader of life".
Don't forget this, Son...

I will always love you more and more,
because you are part of my soul.
Allah will always take a good care for you, my beloved son.
Don't ever leave Allah from your life,
so keep your spirit high to achieve your best future life...
:-)

Love and love always,
Your Mother

- Riffi Amalsyah -

Palembang, Sunday 14th November, 2010

Rabu, Desember 08, 2010

E-Mail from My Second Son...

To : Mom Riffi Amalsyah @ Palembang

Assalamu'alaikum wr. wb.

Hello, mom. Well, how are you?
Of Course I hope that mom will always fine and healthy. Well, actually I wrote this letter as a part of assignments from Mr. Asdad. I will get the score if Mom reply it. But, I'll think of it as an opportunity to say everything that I can't say up to this time. So mom, please pay attention to this letter. Please listen to me, reply it, and please forgive me.

Well, actually first I wanna say sorry.
I wanna say sorry to make you disappointed for what i did.
I wanna say sorry for making too much trouble to you.
I wanna say sorry if sometimes I'm annoying and make you angry.
I wanna say sorry if I extort too much money from you.
I wanna say sorry if I can't be like what you've been expected.
I wanna say sorry if I ever mock you either frontal or behind you.
I wanna say sorry if I ever yell and shout to you rudely.
I wanna say sorry if I ever lied to you.
I wanna say sorry if I ever said 'ah' to you.
I wanna say sorry if I never listen to your good words.
I wanna say sorry for everything I did, for all of my mistakes.
Mom, sorry.

And I also wanna say thanks to you mom.
I wanna say thanks for your kindness.
I wanna say thanks that you make me feel secure in the house.
I wanna say thanks because you always give me advice and conclusion if I've ever been in trouble.
I wanna say thanks because you always be patient to me.
I wanna say thanks because no matter how hard it is, you always take care of me.
I wanna say thanks for your delicious cream soup and spaghetti that you make for me.
I wanna say thanks to you because you always thinking of me, although now i'm far away.
I wanna say thanks to you because you always supports me whatever the activities that I wanna do.
I wanna say thanks to you because you give birth to me, and always protect me when I was little.
I wanna say thanks for your lovely kindness.
You are the one who made me become like this, succesful and happy.
Mom, Thanks.

Mom, thinking of you, wherever you are.
We pray for our sorrows to end, and hope that our hearts will blend.
Now I will step forward to realize this wish.
And who knows :
Starting a new journey may not be so hard,
Or maybe it has already begun.
We are far away now, but we share the same sky.
One sky,
One destiny.
So mom, although we're far away,
Please remember that we're still live in the same world,
that our hearts are connected.
And also,
Please believe that I
Won't disappoint you,
Will make you feel proud,
And will make you happy.

I know that you will always love me
because Mother's love to his son, is a true love.

Mom,
Forgive me,
Believe me,
and THANKS.

Wassalamu'alaikum wr. wb.

- Arvin Ditto Amriza Amalsyah -
@ Bandung, 14th November 2010

Tatkala Anak Sulungku memasuki Usia ke-17 tahun...

Curhatkoe

Saat anakku yang paling besar memasuki usia 17 tahun, saat itu terjadi proses penyadaran dalam diriku. Betapa cepat waktu berlalu, berapa waktu lagi yang tersisa untukku...

Seketika itu juga ketakutanku akan hidupku muncul. Sampai kapankah aku akan “memiliki” dia ? Serasa baru kemarin aku menggendong-gendongnya... serasa baru beberapa minggu lalu aku hamil dan melahirkan dia... Rasanya baru semalam aku main lego dan mobil remote dengan dia... Tiba2 aku disadarkan pada kenyataan bahwa tahun depan dia akan meninggalkan bangku SMA dan memasuki bangku kuliahnya, untuk itu aku harus mempersiapkan segala sesuatunya sejak sekarang...

Rasanya baru beberapa hari yang lalu aku membopong tubuhnya mengarungi air yg bergelombang di kolam renang, namun pagi ini aku melihatnya berenang dengan cepat dan lincah membelah air kolam berbalut tubuh atletisnya yang kini sudah lebih tinggi daripada aku bahkan ayahnya juga... Serasa baru seminggu lalu aku mendorong dia yang duduk di atas kereta bayinya sambil aku belanja di supermarket, tapi tadi siang dengan sigap dia membantuku mendorong kereta belanja dan memasukkan sekarung beras yang kubeli ke dalamnya... Nampaknya baru kemarin aku membacakan dia buku-buku mengenal huruf dan angka, ternyata kusadari sore ini dia mengajariku menjelajah dunia maya dengan berbagai program dan aplikasi rumit yang tak kumengerti...

Proses penyadaran ini membuatku termenung dan memikirkan kembali apa saja yang sudah aku berikan untuknya, apakah caraku membimbingnya sudah benar, apa aku sudah melaksanakan kewajiban-kewajibanku untuknya dan memberikan hak-haknya, atau apakah aku pernah tanpa sengaja telah berbuat semena-mena terhadap dia dan telah membuat dia bersedih karenanya...

Sungguh, aku tak tahu dengan pasti semua jawaban pertanyaan itu. Mungkin hanya Allah yang mengetahuinya, berdasarkan laporan dari para “malaikat” penjagaku. Aku hanya bisa berdoa memohon segala kebaikan untuk putraku, di setiap desah nafas doa yang kupanjatkan kepada Sang Penciptaku...

Ya Allah, betapa sedihnya aku... menyadari bahwa waktu tak dapat kuputar kembali untuk menikmati masa kecilnya bersamaku... Semoga Engkau menjadikan dia sebagai hamba-Mu yang senantiasa takut, patuh, dan taat kepada-Mu, sehingga selalu Engkau bimbing dia menyusuri jalan yang Engkau ridhoi dalam rahmat dan kasih-sayangmu... Amin...


Palembang, 5 September 2008

Senin, Juni 07, 2010

Info Pencegahan Kanker Serviks Uteri

Beberapa waktu lalu, saya menerima informasi ini. Sekedar sharing, semoga bermanfaat. Terima kasih.

Tips Pencegahan KANKER SERVIKS UTERI :

- Tidur tidak usah memakai CD (Celana Dalam).
- Sehabis buang air kecil, keringkan dgn tissue.
- Ganti CD minimal 2x sehari.
- Ganti pembalut minimal 2x sehari.
- Hindari makanan/buah yg meningkatkan produksi lendir, seperti : Nanas, Kol, Timun, dsb.
- Jangan memegang VAGINA dgn kuku kotor.
- Jangan biarkan CD basah.
- Jangan melakukan SEX BEBAS.
- Jika memungkinkan, lakukan pemeriksaan USG/SCREENING UTERUS secara rutin. 

Sebarkan kepada semua wanita yg kamu sayangi...
Selamatkan PEREMPUAN..!!!

Minggu, Mei 02, 2010

Pendidikan Perlu Seimbang

Sriwijaya Post - 2 Mei 2010

BAGI ibu tiga anak ini, memasukkan anak ke sekolah Islam terpadu karena ingin mendapatkan nilai lebih. Bukan sekedar pendidikan umum yang diperoleh, tapi lebih dari itu bahwa penanaman tentang akhlak pun merupakan hal penting untuk menjadi benteng anak sejak dini dari pengaruh negatif. “Supaya punya dasar (fondasi) yang kuat. Apalagi tantangan pengaruh globalisasi sudah sangat cepat,” kata Kania Riffianti Amalsyah atau yang akrab disapa Riffi, Sabtu (1/5).

Ditemui ketika bersama putri bungsunya Amalia Shafa Amriza Amalsyah (Chacha), Riffi menyebutkan beberapa pertimbangan untuk memasukkan anak-anak ke sekolah Islam terpadu. Seperti Chacha dipandang perlu mendapatkan keseimbangan antara pendidikan agama dan pengetahuan umum. Memilih sekolah Islam terpadu pun diakui Riffi dengan berbagai kriteria, seperti sarana dan kualitas sekolah yang memadai, juga karena adanya kegiatan ekstrakurikuler yang menunjang. Ibu setengah baya ini menambahkan, anaknya sekolah di SD Islam Terpadu Az- Zahrah Kompleks Poligon Bukit Sejahtera Palembang.

Anaknya Chacha mendapatkan pelajaran seperti pendalaman belajar Alquran, penguasaan bahasa Arab ataupun hal-hal lain yang berkaitan dengan keagamaan, akhlak dan budi pekerti sesuai ajaran Islam. “Secara tidak langsung pembekalan keagamaan sudah diperoleh anak di sekolah,” tambahnya. (safta)

Biodata
Nama Lengkap : Kania Riffianti Amalsyah, S.Sos.
Tempat/tgl Lahir : Semarang, 2 September 1969
Nama Suami : Kolonel Czi Amalsyah Tarmizi, S.IP.
Nama Anak :
1. Aji Bima Amriza Amalsyah (Bimbim), 5 September 1991, Semester 2 SAPPK ITB.
2. Arvin Ditto Amriza Amalsyah (Ditto), 8 Juli 1994, Kelas X-7 SMAT Krida Nusantara Bandung.
3. Amalia Shafa Amriza Amalsyah (Chacha), 9 Juni 2000, Kelas 4 Shiddiq SD Islam Az-Zahrah Palembang.

Fotografer : Syahrul Hidayat.
Lokasi Pemotretan : Kompleks Palembang Square Mall.

safta

http://m.sripoku.com/view/33942/pendidikan_perlu_seimbang

Selasa, Desember 16, 2008

Kata Bijak

"Bangun di kala fajar dengan hati seringan awan...
Mensyukuri hari baru nan penuh dengan cahaya cinta...
Istirahat di terik siang merasakan getar-getar cinta...
Pulang di kala senja dengan syukur sepenuh rongga dada...
Hanyut dalam doa bagi yang tercinta dalam sanubari...
Sebuah nyanyian syukur tersungging di bibir mungil..."

----- (Kahlil Gibran)

Kata Bijak

"Janganlah datang ke taman...
Dalam diri kita sudah ada taman...
Duduklah di atas pohon Lotus...
Temukan kebahagiaan di sana..."

(Kabir, seniman besar India)

Umroh Keluarga, Juli 2007

Ka'bah...

with my Chacha, waitin' 4 time of Isya, @ 2nd floor of Masjidil Haram

My hubby and Our Sons


Me and Chacha



@ Bir Ali, start to Umroh


di Kebun Kurma, Madinah

My Hubby and Me


My Family, in front of Masjid Quba


Bima (right) and Ditto (left), @ Masjid Nabawi


Look at my Dearest Daughter, Shafa or Chacha... :-)

Senin, Juli 28, 2008

Keputusan Fanny

- Cerita Pendek, oleh Riffi Amalsyah -
(Dimuat dalam Majalah "Kartika Kencana" Edisi 81/TH.XXV - Juli 2008)


Azan Subuh baru saja berlalu. Matahari belum lagi menampakkan sinarnya. Namun suasana di sekitar kolam telah terlihat dengan jelas. Garis-garis pepohonan tidak lagi tampak samar-samar dalam keremangan pagi sebagaimana biasanya. Gemercik suara air yang tercurah dari parit menuju kolam terdengar jelas di tengah sunyinya pagi. Belum banyak kendaraan bermotor melintasi jalan di sekeliling kolam, udara masih sangat bersih, segar, jauh dari polusi, benar-benar mengisi paru-paru sepenuhnya. Sungguh hari Minggu yang didambakan setiap insan.
Fanny baru berlari dua putaran mengelilingi kolam, dari lima putaran yang rutin ia lakukan. Seperti biasa, saat itu sekeliling kolam mulai dipadati oleh orang-orang dari berbagai golongan. Namun kali ini banyak terlihat pria berbadan tegap, dengan potongan rambut a la crew-cut. Melihat rambut tercukur pendek nyaris gundul dengan jambul berdiri di depan kepala seperti itu, ingatan Fanny kembali ke masa empat tahun yang lalu, ketika segala kenangan manis memenuhi kehidupannya, sampai suatu hari di dua tahun lalu berubah menjadi kenangan pedih. Susah untuk dilupakan.
Kala itu Fanny masih berstatus seorang mahasiswi Semester Tiga sebuah perguruan tinggi di Bandung. Selain kuliah, Fanny juga sibuk dengan kegiatannya sebagai aktivis LSM. Dari kegiatannya itu Fanny bertemu dan berkenalan dengan Garin, seorang anggota TNI AD salah satu Batalyon di Bandung. Hubungan mereka berlanjut dan menjadi pertalian kasih yang lebih dalam. Meskipun Garin berprofesi sebagai seorang prajurit dengan sifat pendiam, ia mampu menyelami pembawaan Fanny yang terbuka, lincah, dan tidak pernah berhenti berkreasi untuk menuangkan ide-idenya. Bahkan Garin pun banyak membantu Fanny untuk keperluan kuliahnya dengan membuka jalan memperluas relasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan bagi penelitiannya.
Enam bulan berlanjut, Fanny dan Garin memutuskan untuk memperdalam hubungannya melalui pertunangan. Satu bulan kemudian, Garin harus berangkat ke Ambon, memenuhi panggilan tugas profesinya. Fanny tak pernah menyangka bahwa kepergian Garin akan membuyarkan semua mimpi dan cita-cita yang telah disusun bersama Garin. Setahun kemudian - hanya sebulan lagi sebelum kembalinya Garin ke Bandung - suatu konflik yang terjadi antar kelompok yang bertikai di Ambon telah merenggut nyawa Garin ke pangkuan Ibu Pertiwi.
Kehidupan yang harus Fanny jalani setelah peristiwa tersebut terasa amat berat, terlebih saat itu ia tengah menjalani tahap akhir penyelesaian skripsinya. Namun berkat dorongan kedua orang tua, saudara-saudara, dan teman-temannya, Fanny dapat menerima semua itu sebagai takdir yang harus diterima sebagai keputusan mutlak dari Tuhan Yang Maha Kuasa. Hingga akhirnya Fanny dapat menyelesaikan kuliahnya.
Waktu demi waktu yang berlalu tak lagi memberikan kesempatan bagi Fanny untuk terus larut dalam kesedihan mengenang seorang pemuda yang begitu baik dan penuh pengertian dalam hubungan mereka yang manis. Segera setelah lulus Fanny langsung diterima bekerja sebagai seorang staf Humas pada sebuah perusahaan swasta di Palembang.
Seorang anak kecil yang menangis dan melintas di hadapannya membuyarkan lamunan Fanny. Ia segera menghentikan laju kecepatan larinya. Ah, dasar pelamun aku ini, sampai lupa suasana di sekitarku, katanya dalam hati sambil tersipu malu bercampur geli membayangkan apa yang terjadi jika ia sampai jatuh terjungkal akibat menghindari anak tersebut. Fanny memandang sekeliling dan tampak suasana makin ramai.
Ia lalu melangkah keluar dari lintasan jogging mendekati tepi kolam untuk melaksanakan tahap peregangan. Tiba-tiba seorang pria hampir terjungkal menjaga keseimbangan badannya agar mereka tak bertabrakan.
"Ooohh !!! Hati-hati…," Fanny setengah berteriak kepada pria itu.
Pria itu tampak berhasil menjaga keseimbangan badannya, lalu turut menepi dari trotoar menuju ke tempat Fanny berdiri.
Fanny memandangi dengan sedikit cemas, "Anda tidak apa-apa, kan ? Mmm… maaf, ya… saya…"
"Saya baik-baik saja, tidak apa-apa. Jangan kuatir," pria itu memotong kalimat Fanny sambil tersenyum.
Fanny masih merasa bersalah, "Betul…, tidak apa-apa ? Anu… Tadi… saya…"
"Sudahlah, saya tidak apa-apa kok. Lihat, badan saya masih utuh begini. Tidak ada yang pecah, kan ?" gurau pria itu sambil mengulurkan tangannya. "Kenalkan, nama saya Yudha. Boleh tahu namamu ?"
"Emmm… Saya Fanny…," Fanny menyambut uluran tangan Yudha dengan wajah tersipu malu. Kenapa sih, aku ini… seperti ABG saja…, kata Fanny dalam hatinya.
Sesaat mereka berdua hanya diam saling berjabat tangan dan saling memandang sambil mengatur nafas yang masih tersengal. Fanny merasakan jantungnya berdetak lebih kencang. Oh… Apa yang terjadi dengan diriku ini, tanya Fanny pada hatinya. Inikah yang namanya tertarik pada pandangan pertama ?
Yudha memecah keheningan, “Fanny… Memang sesuai dengan namamu, Fanny. Dalam Bahasa Inggris, 'funny' artinya lucu atau menyenangkan… ya, kan ?"
"Kalau Yudha… artinya perang, dong ?" Fanny menyahut tak mau mengalah.
"Ya… Mungkin juga itu yang diharapkan dari orang tua saya waktu memberikan nama. Dan ternyata, sekarang saya sering melaksanakannya, walaupun teori dan latihan lebih banyak daripada praktek."
"Oh… Kalau begitu profesi anda tentara, ya ?" Selintas Fanny teringat pada Garin.
Yudha mengiyakan. Percakapan terus berlanjut kepada identitas dan hal-hal lain hingga matahari telah menampilkan diri sepenuhnya.

*****

Yudha kini sering bertandang ke tempat tinggal Fanny di sebuah wisma yang disediakan oleh perusahaannya. Semula Fanny merasa ragu menerima kunjungan Yudha setiap malam Sabtu atau Minggu, namun ia tak dapat menolak, sebab ada sesuatu yang mengisi relung hatinya yang paling dalam, yang selama ini terasa kosong setelah kepergian Garin.
Fanny dan Yudha mengisi keakraban mereka dengan pergi menonton film di bioskop, makan di restoran, atau sekedar jalan-jalan berkeliling kota. Tak ketinggalan kebiasaan jogging setiap Minggu pagi. Kesendirian yang sebelumnya dijalani oleh Fanny, kini berubah menjadi kebersamaan yang menyenangkan.
Satu kali Yudha mengungkapkan perasaannya kepada Fanny. Yudha mengatakan, bahwa ia telah tertarik kepada Fanny sejak pertama mereka bertemu. Karena kedua orang tua masing-masing telah mengetahui hubungan yang mereka jalin, Yudha menyatakan sudah siap meminta orang tuanya di Jakarta untuk menemui orang tua Fanny di Bandung. Akan tetapi, Fanny selalu mengelak dengan alasan ia belum siap untuk melanjutkan hubungan mereka lebih jauh lagi. Fanny tidak berani mengungkapkan kekuatirannya jika harus kehilangan lagi seperti ketika ia kehilangan Garin. Fanny merasa lebih baik seperti ini saja. Namun Yudha tidak pernah memaksa. Fanny merasakan betapa Yudha sangat menghargai perasaannya.
Malam Minggu itu, seperti biasa Yudha mengunjungi Fanny lalu mengajak makan di restoran favorit mereka. Setelah pesanan datang, Yudha meraih dan menggenggam tangan Fanny di atas meja.
"Fan… Boleh aku bicara ?"
"Eh… Tentu boleh, dong. Sejak kapan kebebasan berbicara Mas Yud aku cekal ?" Fanny sengaja bercanda untuk menutup keterkejutannya. Hatinya berdebar-debar.
Yudha mempererat genggamannya, ia tambah bersemangat melihat wajah Fanny yang bersemu kemerahan. "Aku ingin, kamu tahu perasaanku. Sudah lama aku ingin mengatakannya lagi sejak kamu menolakku. Tapi sekarang aku tak peduli lagi apa alasanmu, Fan. Aku sayang kamu. Bukan hanya itu, tapi aku juga ingin kamu jadi pendamping hidupku."
Kalimat itu membuat jantung Fanny berdetak kencang, kebahagiaan seakan menyelimuti seluruh tubuh dan jiwanya. Mata indah Fanny membulat bersinar bersama senyumnya yang merekah. Ternyata ia laki-laki yang gigih dan tak kenal menyerah. Tapi bagaimana lagi caraku untuk menghindar darinya, pikir Fanny kebingungan mencari alasan yang tepat. Fanny masih belum berani mengambil keputusan.
"Tapi, aku…" jawab Fanny sekenanya.
"Ayo, katakan kalau kamu juga sayang aku," desak Yudha.
"Mas Yudha, aku 'kan sudah pernah bilang dulu…"
"Aku tidak percaya kalau kamu tidak sayang sama aku," Yudha terus menatap tajam pada mata Fanny. Ia mengeraskan genggamannya.
Fanny gugup dan mencoba menghindari tatapan mata Yudha. Tapi dengan genggamannya Yudha berhasil membuat Fanny kembali menatapnya.
"Iya, Mas… Sebetulnya aku juga sayang kamu. Tapi, aku… Aku… Eee... aku…" "Kenapa gadisku jadi gagu begitu ?" Yudha tersenyum geli melihat Fanny menjadi salah tingkah. "Ada sesuatu yang ingin kamu katakan ? Apa kamu ingin menyampaikan sesuatu yang belum pernah kamu ungkapkan ? Aku siap mendengar apa pun yang akan kamu utarakan, Fan… Setelah hubungan yang kita bina selama ini, masa sih, kamu masih belum bisa mempercayaiku ?"
Rentetan pertanyaan Yudha membuat Fanny semakin gugup. Ia bingung untuk menjelaskan hal sesungguhnya.
Melihat sikap Fanny demikian, Yudha melonggarkan genggaman tangannya perlahan-lahan.
"Aku tidak akan memaksamu, Fanny. Aku akan menunggu terus sampai kamu menjawab lamaranku. Yang penting, aku sudah tahu bahwa kamu menyayangi aku. Itu sudah cukup bagiku. Aku tidak akan memaksamu memberikan jawaban dengan tergesa-gesa. Aku tahu kamu perlu waktu. Sekarang makanlah dulu, tidak enak kalau sudah dingin."
Yudha menghela nafas lega walau tatapan matanya menjadi agak muram. Lalu ia menyantap makanan yang sudah tersedia.
Fanny tidak berkata apa pun. Ia juga segera memasukkan makanan ke dalam mulutnya, pikirannya menerawang jauh. Apakah aku sanggup menghadapi kehilangan kembali, seandainya suatu waktu Mas Yudha meninggalkanku karena tugasnya, hati Fanny pun resah.
Sementara itu, sosok Yudha yang selalu menunjukkan sikap santun, Yudha yang selalu bersabar hati dan menunjukkan sikap menghormati martabat dan harga dirinya sebagai wanita, terus berkelebat silih berganti dalam benak Fanny. Saat-saat Yudha menelepon mengingatkan Fanny akan kewajiban ibadahnya begitu menyenangkan. Sebenarnya, apa lagi yang menjadi keberatanku untuk menerimanya... tanya Fanny pada dirinya.
Mata Yudha terus melekat pada wajah ayu Fanny yang menunduk menikmati santapannya. Kekaguman akan kemandirian dan kedewasaan Fanny makin mendorong keinginan Yudha untuk mewujudkan hasrat menjadikan Fanny sebagai istrinya. Gemuruh di hati Yudha seakan ingin berteriak meyakinkan Fanny betapa ia sangat mengasihinya. Betapa ingin ia menggantikan dan mengisi tempat di hati Fanny yang dulu pernah diisi oleh seorang pria pada masa lalunya. Tapi Yudha menahan diri. Sifat ksatria yang mendarah-daging di tubuhnya membawanya pada sikap penguasaan diri. Aku harus sabar dan ksatria, katanya pada dirinya sendiri.
Melihat Fanny terus terdiam, hati Yudha menjadi iba. Ia lalu membuka percakapan memecah kebekuan, menanyakan kegiatan Fanny selama seminggu, dan terus bercerita seolah tak ada hal penting yang telah terjadi.

*****

Sepanjang malam itu Fanny gelisah. Terus terbayang seluruh percakapannya dengan Yudha. Terbayang lagi tatapan Yudha yang berbeda dari biasanya. Di benaknya berkecamuk banyak pertanyaan. Mengapa aku harus mengecewakannya ? Padahal sudah jelas aku juga mencintainya ? Apakah aku harus terus selamanya merasa ketakutan seperti ini ? Sampai kapan aku akan bertahan ? Bukankah setiap manusia telah ditentukan nasibnya oleh Sang Penciptanya sejak lahir ? Bukankah semua orang pasti akan meninggalkan dunia yang fana ini, tak peduli ia berprofesi sebagai apa pun ? Fanny berusaha bangkit.
Ah, aku tidak boleh begini terus. Aku harus tegar. Apapun yang akan terjadi kelak, aku serahkan saja pada Tuhan... Fanny menarik nafas dalam, ia memejamkan matanya. Ya Tuhan, bantulah aku menghadapi segala kehendak-Mu. Aku harus mengatakan perasaanku pada Mas Yudha. Bantulah aku untuk dapat mengatakan perasaanku yang sesungguhnya kepada Mas Yudha esok, pintanya dalam hati. Akhirnya Fanny tertidur bersama mimpi indahnya.

*****

Keesokan harinya, Minggu pagi, seperti biasa mereka bertemu di 'Kambang Iwak' – kolam ikan, lokasi olah raga tempat pertemuan pertama – untuk jogging bersama. Saat istirahat, mereka duduk di tepi kolam sambil memperhatikan anak-anak yang tengah mencari ikan menggunakan jala kecil.
"Fan… Kamu sedih tidak, kalau aku harus meninggalkan kota ini untuk beberapa bulan lamanya ?" Yudha memecah keheningan.
"Maksud Mas Yud… ?" Fanny agak terkejut.
"Aku mendapat tugas berangkat ke daerah rawan di Papua, Fan. Lamanya enam bulan. Kalau ada apa-apa, ya jadi satu tahun. Kalau tambah gawat, ya dua tahun. Dan kalau betah, ya tidak pulang-pulang," Yudha tersenyum-senyum melihat ekspresi wajah Fanny yang terkejut.
"Kapan Mas Yudha berangkat ?" Fanny bertanya dengan cepat.
"Sesegera mungkin, Fan. Begitu ada perintah, kami langsung berangkat. Bisa minggu ini juga, bisa bulan depan, bahkan bisa juga nanti malam," jawab Yudha sambil tersenyum lebar.
"Mas Yud jangan bercanda, ah…" Fanny tampak gusar.
"Aku tidak bercanda. Aku serius nih, dua rius malah. Kalau kamu mau, sepuluh rius juga boleh," canda Yudha.
"Kenapa mendadak, Mas ?" tanya Fanny. Tanpa disadari ekspresi wajahnya menunjukkan luka dan kepedihan.
"Di lingkungan tentara itu tidak ada yang serba mendadak, Fan. Semua sudah direncanakan, jadi aku sebagai prajurit harus selalu siap menerima tugas apa pun yang diperintahkan. Sebetulnya aku ingin mengatakannya tadi malam, tapi… ya, kamu tahu sendiri ‘kan ? Jadi…, " Yudha membiarkan kalimatnya menggantung.
"Jadi, apa… ?" suara Fanny terdengar gusar.
"Jadi, bagaimana dengan hubungan kita ? Aku harus bagaimana ?" suara Yudha terdengar menggoda.
Seketika Fanny mengerti dan balas menggoda, "Iya, yaa… T'rus, aku juga harus bagaimana ?"
Yudha balik terkejut, tidak menyangka jawaban Fanny. Hatinya mulai gusar dan wajahnya kaku. Fanny tergelak.
"Kamu jangan menyiksaku dong, Fan…" Yudha memelas.
"Aku akan menunggumu di sini, Mas. Apa pun yang akan terjadi," jawab Fanny tegas.
"Sungguh ? Bagaimana kalau aku pulang nanti kamu sudah punya pacar baru ? Waktu kulamar kemarin saja kamu tidak menanggapinya."
Fanny tersenyum lembut, "Mas Yud… Aku sudah berpikir semalaman, aku akan menerimamu apa adanya."
"Betul, kamu mau jadi istriku ? Betul, Fan ?" suara Yudha meninggi kegirangan.
"Ya betul, dong… Kalau Mas Yud tidak percaya, ya sudah…," Fanny tersenyum-senyum.
"Eh, eh… Tidak, aku percaya. Aku percaya," ucap Yudha seakan takut Fanny meralat ucapannya.
"Semua sudah aku pikirkan, Mas. Tapi sekarang aku ingin berterus terang dulu kepada Mas Yudha …"
Fanny selanjutnya mengungkapkan sebab kegalauan hatinya tentang rasa kuatir kehilangan lagi seseorang yang dicintainya … Akhirnya Fanny menghela nafas panjang, "Sekarang Mas Yud mengerti, 'kan ?"
"Iya, aku mengerti Fan. Tapi kamu jangan kuatir, aku akan selalu berusaha menjaga diriku baik-baik selama bertugas. Itu juga pasti yang dilakukan oleh Garin dulu, tapi Tuhan berkehendak lain. Makanya… kamu harus rajin-rajin berdoa buatku, dong. Nah… Sekarang, dengan adanya rencana keberangkatanku ke Papua, bagaimana perasaanmu ?" tanya Yudha kembali.
"Aku ikhlas, Mas. Ternyata, selama ini aku tuh kurang keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Berkehendak. Kalau memang jodoh, kita pasti bisa bersama sampai kapan pun. Iya, kan ?"
Yudha tersenyum lalu merengkuh gadis itu dalam rangkulannya. "Terima kasih, Fan… Sekarang, boleh aku memelukmu ? Sedikit saja, kok."
Meski malu, Fanny tak kuasa menolaknya …

*****

Suara gamelan yang terdengar dari luar rumah mulai berkumandang, menandakan rombongan pengantin pria telah datang. Kicauan burung-burung di atas dahan pohon sekeliling rumah orang tua Fanny seakan memberi tanda bahwa cuaca kota Bandung saat itu begitu cerah. Untaian dan harum bunga melati menghiasi sanggul Fanny yang tengah bersiap menyambut saat-saat bersejarah dalam hidupnya.
Sebentar lagi, Yudha akan mengucapkan janjinya dalam akad nikah mereka. Enam bulan berlalu setelah penantian Fanny akan kembalinya Yudha dari medan tugas, ternyata tidak meruntuhkan ketegaran hati Fanny dalam menyongsong masa depan bersama Yudha kelak.
Senyum penuh kebahagiaan mengembang di sudut bibir Fanny ketika melihat kehadiran Yudha yang tengah menatapnya sambil memasuki ruangan – menambah keindahan wajah Fanny. Fanny menyadari, apa pun yang akan terjadi, dengan kepasrahan yang dalam, maka setiap manusia akan sanggup menerima segala kehendak-Nya.
Bersama tekad itu, Fanny menyambut kedatangan Yudha untuk bersama menuju meja upacara pernikahan …


************************


(Palembang, 1 Desember 2000)