Senin, April 30, 2012
Puisi dari Ny. Suhardi, untukku
Tuhan......
Andai aku bisa memilih...
aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini, Tuhan ...
Andai aku bisa memilih...
aku berharap tidak ada lagi hal yg sama terjadi padaku...
terjadi pada org lain, Tuhan...
Bolehkah aku menulis surat kecil untuk-Mu, Tuhan...?
Bolehkah aku memohon satu hal kecil untuk-Mu, Tuhan...?
Biarkan aku dapat melihat, memandang langit dan bulan setiap harinya...
Tuhan...
Bolehkah aku tersenyum lebih lama lagi,
agar aku bisa memberikan kebahagiaan, pengabdian,
kepada keluarga dan sahabat-sahabatku, Tuhan...?
Berikanlah aku kekuatan dan hidayah-Mu,
agar aku bisa memberikan arti hidup kepada siapa pun yang mengenalku...
Tuhan...
Terima kasih Kau selalu bersamaku...
Aamiin....
Bandarlampung, 12 April 2012
(Dikirim via SMS saat aku tengah dirawat pasca-DSA di RSPAD, Jakarta)
Senin, April 16, 2012
Asti T..Bercerita: Aku ingin tahu apa itu DSA Trombolisis
Asti T..Bercerita: dr. Terawan , The Rising Star Radiologi Intervensi...
Aman, Amal, dan Amanah
Aman, Amal, dan Amanah
Radar Lampung
SABTU, 14 APRIL 2012 | 10:56 WIB
SOSOK Komandan Korem (Danrem) 043 Garuda Hitam Kolonel CZI Amalsyah Tarmizi, S.Ip. semakin menguat dalam bursa Pemilihan Gubernur (Pilgub) Lampung 2013. Meski belum pasti akan maju karena butuh pertimbangan matang lantaran masih bertugas TNI aktif, Amalsyah menyatakan siap mengemban amanat rakyat. Baginya, dalam memimpin, dia selalu berprinsip aman, amal, dan amanah.
’’Dalam bertugas, prinsip saya selalu berusaha berbuat yang terbaik dalam amal perbuatan. Juga amanah dalam tugas yang saya emban, termasuk tugas negara dan amanah dari rakyat,” ujar Danrem.
Dikatakan Amalsyah, mengenai niatnya untuk maju dalam pilgub memang ada. Menurutnya, siapa pun putra daerah pasti akan terpanggil untuk membangun daerahnya.
’’Hingga kini, saya masih fokus untuk tugas sebagai Danrem. Namun, memang ada aspirasi untuk saya yang berkembang bahwa ada yang mendukung (maju pilgub, Red) dan itu saya hargai. Tapi, fokus utama tetap tugas sebagai Danrem. Untuk maju pilgub, meski siap, tetap saya harus izin pimpinan saya,” kata Amalsyah kepada Radar Lampung via ponselnya kemarin.
Secara jujur, Amalsyah juga mengakui terus memperoleh kabar bahwa dukungan baginya terus mengalir. Selain dukungan Jaring Kandidat Radar Lampung yang sudah mencapai dukungan 4 ribu lebih dan terus naik peringkat, teranyar adalah di media jejaring sosial Facebook. Sebuah nama grup Kol. CZI Amalsyah Tarmizi For Lampung 1 terus bertambah pendukungnya. Hingga tadi malam, jumlah dukungan di grup ini tercatat 2.245 anggota.
’’Saya juga kaget. Katanya grup itu baru dua hari. Saya malah belum sempat buka karena banyak tugas. Yang pasti, semua aspirasi saya ucapkan terima kasih,” tutur Amalsyah.
Ditanya apa yang menjadi harapannya untuk Lampung ke depan, Amalsyah menyatakan, ia ingin Lampung lebih maju lagi. Di antaranya ingin Lampung aman.
’’Keamanan itu nomor satu. Saya katakan sekarang Lampung bukan tidak aman, namun keamanan akan terus ditingkatkan. Kini kami (TNI, Red) terus bekerja sama dengan Polri serta pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat untuk menciptakan situasi kondusif. Setelah aman, maka ekonomi bisa akan tumbuh, investor masuk, dan terbuka lapangan pekerjaan,” ungkapnya.
(gus/c2/gus)
http://www.radarlampung.co.id/read/politika/48368-aman-amal-dan-amanah
Minggu, April 15, 2012
Danrem 043/Gatam Menerima Penghargaan dari Menteri Kehutanan RI
Bantuan untuk Korban Kerusuhan Sidomulyo
http://www.korem-043-gatam.mil.id/component/content/article/9-gallery/130-danrem-043gatam-beserta-ketua-persit-koorcab-rem-043-pd-iisriwijaya-memberikan-bantuan-dan-tali-asih-korban-kerusuhan-sidomulyo-penrem-043gatam
Kamis, Februari 09, 2012
Minggu, Januari 08, 2012
AMALSYAH TARMIZI - Tokoh Lampung
Tokoh Lampung
(Sosok, Kiprah, Wawancara, Obituarium)
TNI Hadir di Tengah Rakyat
- Kolonel Czi. Amalsyah TarmiziDanrem 043/Garuda Hitam Lampung
KONDISI bangsa yang hiruk-pikuk oleh politik dan maraknya kriminalitas, rakyat merasa rindu kehadiran TNI. Itu tecermin dari banyaknya pernyataan “enakan zaman Pak Harto. Aman”. Kini, kerinduan rakyat ditemukan kembali dalam banyak kegiatan sosial kemasyarakatan yang digelar TNI.
Peta keamanan dan gangguan ketertiban masih melekat di Provinsi Lampung. Berbagai insiden dan kriminalitas terus terjadi di berbagai sudut daerah dan melukai rasa aman warga. Padahal, polisi sudah berupaya keras untuk mengantisipasi dan menindak pelaku.
Dalam rasa waswas yang tak kunjung terobati, berbagai cara dilakukan warga. Dari melakukan siskamling, mempersenjatai diri, menghindari daerah-daerah terindikasi rawan kejahatan, hingga sekadar mengeluh. Saat keluhan tak mendapat jawaban, warga mulai menghela napas seraya berkata; “enakan zaman Soeharto, ya. Aman!”
Saat itu, TNI aktif ikut berperan di masyarakat dengan dwifungsi ABRI. Kini, melalui undang-undang, tentara ditarik ke barak dan menjalankan fungsinya sebagai instrumen pertahanan. Maka, tak jarang warga awam menyebut TNI sudah tidak peduli rakyat lagi.
Bagaimana sebenarnya posisi TNI di tengah masyarakat? Berikut petikan wawancara wartawan Lampung Post Iskandar Zulkarnain dan Sudarmono dengan Danrem 043/Garuda Hitam Kolonel Czi. Amalsyah Tarmizi, Selasa (3-1).
Lampung hari ini masih berkabung dengan desas-desus kasus Mesuji. Kriminalitas, terutama begal motor, seperti tren di beberapa daerah. Polisi seperti tidak sanggup. Bagaimana peran TNI di sini?
Baik. Kita tahu, sejak reformasi, TNI dan Polri kan dipisah. Dengan undang-undang itu, tugas masing-masing sangat jelas. Oleh karena itu, TNI bukan tidak peduli dengan kondisi ini, tetapi pemilahan tugasnya sudah berbeda. Polisi menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat, sedangkan TNI bertugas sebagai pertahanan dan pengamanan negara dalam arti luas.
Saat ini rakyat rindu dengan kehadiran TNI dalam rangka membantu keamanan. Apa tidak dimungkinkan TNI berperan lagi?
Untuk menjadi kesadaran bersama, keamanan dan ketertiban adalah tugas kita bersama seluruh elemen bangsa ini. Ini bukan tugas polisi saja. Posisi TNI hampir sama dengan warga lain. Tetapi, sebagai warga yang memiliki kemampuan dan difasilitasi negara dengan instrumen pertahanan, TNI wajib mengambil peran yang lebih besar ketimbang warga sipil.
Saya sebagai tentara dan juga anggota lainnya, jika menemukan aksi kriminalitas di berbagai tempat, ya kami tangkap. Setelah itu, kami serahkan kepada polisi untuk diproses hukum. Tetapi kalau kami menyengaja mengejar penjahat, itu jadi tidak tepat dengan tugas dan fungsinya.
Apa pun, rakyat ingin rasa aman itu pulih. Apa yang bisa dilakukan TNI untuk membantu?
TNI dalam satu wilayah, tugas utamanya adalah pertahanan. Namun, TNI adalah salah satu institusi pembina teritorial. Oleh karena itu, kami juga selalu ingin mendekat kepada masyarakat dengan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Intinya, kami ingin menjadi bagian dari masyarakat. Makanya, di sini kami punya program ke depan, Memasyarakatkan Korem 043/Gatam. Tujuannya agar antara TNI dan rakyat menyatu dalam kebaikan.
Apakah ini akan punya dampak munculnya rasa aman?
Kami punya keyakinan seperti itu. Hadirnya anggota TNI di tengah masyarakat secara kasat mata pasti akan memberi efek segan kepada orang yang mempunyai keinginan jahat. Itu pasti. Sebagai contoh, kalau ada tentara mengobrol dengan warga di pos ronda atau di tempat lain, misalnya, pasti akan merasa lebih aman.
Tetapi bisa sebaliknya, muncul rasa takut warga karena curiga ada apa?
Iya, kalau tentara satu peleton. Itu mungkin yang dicurigai para aktivis. Makanya, sekarang kehadiran TNI di tengah masyarakat lebih bersifat kegiatan sosial. Itu untuk mengantisipasi kesan buruk yang mungkin muncul saat kehadiran TNI.
Untuk masyarakat ketahui, kami jajaran Korem Garuda Hitam terus mendukung dan berperan aktif dengan program-program yang sejalan dengan pemerintah. Isu lingkungan hidup yang saat ini tengah digalakkan, kami berencana menanam 10 juta pohon di Lampung.
Di Lampung ada hampir seribu babinsa (bintara pembina desa). Setiap babinsa akan menggerakkan warga untuk menanam 10 ribu pohon. Jadi, pada saatnya nanti tertanam 10 juta pohon.
Banyak lagi kegiatan kemasyarakatan dan keagamaan. Ada program TNI Masuk Masjid. Ini nama program saja. Bagi anggota yang beragama lain, tentu ke tempat ibadah sesuai keyakinannya. Dan masih banyak lagi untuk lebih dekat lagi dengan masyarakat. Sementara program TNI Manunggal KB dan Kesehatan seperti yang selama ini ada tetap diteruskan.
Kalau rencana strategi Anda untuk Korem Gatam apa?
Ada istilah, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Saya orang Lampung, saat bertugas di Bandung, saya ngomong Sunda. Saat studi di Akabri di Magelang, saya berusaha keras untuk bisa ngomong Jawa. Di Palembang lebih mudah. Apalagi di Lampung, tanah kelahiran. Jadi, saya bekerja selalu harus dalam suasana yang menyenangkan. Dan untuk membangun suasana menyenangkan, kita harus sesuaikan dengan lingkungan.
Strategi ke dalam?
Secara fisik, kantor dan lingkungan instalasi militer ini harus dirawat dan diperbaiki. Kedua, mentalitas prajurit TNI harus menjadi teladan atau contoh. Saya punya target, nol kesalahan dalam tugas. Kalau istilah dunia kerja, zero accident. Saya tidak toleransi anggota yang melanggar. Jangan pernah ada dan terjadi konflik antara TNI dan polisi, apa pun alasannya. Sebab, peristiwa seperti itu adalah kabar paling memalukan di hadapan rakyat. Tidak ada anggota TNI terlibat kriminal, tidak ada beking-beking, tidak ada pelaku maksiat. Itu tidak saya toleransi.
Strategi ke luar?
Ya, sebagai salah satu lembaga pembina teritorial, kami terus menjalin hubungan harmonis dengan pejabat pemda untuk memadukan setiap program. Intinya, kami ingin dan harus dekat dengan masyarakat. Dengan demikian, kami ingin punya manfaat dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa. nFilosofi ‘Esem Bupati’
RUANG kerja Komandan Korem 043/Garuda Hitam Lampung, Selasa (3-1). Lima perwira di kesatuan itu mendampingi Kolonel Czi. Amalsyah Tarmizi diwawancarai Lampung Post. Dengan uniform lengkap, mereka takzim mendengar dan siap dengan segala kemungkinan menyampaikan pernyataan dan data.
Wawancara belum dimulai, tetapi orang nomor satu di jajaran TNI AD Lampung itu sudah membuka dengan cerita tentang kondisi kesatuan, tugas-tugas, dan strateginya. Ya, lebih terasa sebagai cerita berhikmah dan obsesi yang kuat untuk menyempurnakan tugas ketimbang disebut sebagai statement seorang Danrem. Sebab, nadanya santai, joke-joke bertebaran, filosofi-filosofi bermunculan, dan sering diakhiri dengan tawa lebar.
Anak kedua dari delapan bersaudara Tarmizi Nawawi dan Rosmaniar ini memang bukan prajurit biasa. Meskipun sudah berpangkat kolonel pada usia 48 tahun dan menjadi komandan korem, ia adalah serdadu yang hampir selalu bersentuhan dengan masyarakat sepanjang masa tugasnya.
Bahkan, pernah tersirat melepas status TNI-nya gara-gara keasyikan menjadi manajer Sriwijaya FC di Palembang.
Wawancara dengan bapak tiga anak ini memang tidak seperti konfirmasi dengan petinggi militer. Ditanya soal strategi memimpin tentara, dengan ringan dia memberi satu jawaban. "Ya, enggak usah marah lah. Begitu saja!" kata dia.
Soal jawaban ini, anak mantan asisten Pemprov Lampung zaman pembentukan provinsi ini memegang teguh kearifan Jawa. Dengan lancar dia menyebut filosofi stratifikasi sikap dalam bahasa Jawa.
"Ada tiga tingkatan. Pertama, esem bupati. Kedua, sopo mantri. Dan ketiga, dupak kuli. Esem bupati itu artinya senyum seorang bupati yang dilambangkan sebagai pimpinan. Sopo mantri artinya sapaan mantri yang bermakna sesama. Sedangkan dupak kuli itu artinya tendang buruh. Nah, sebagai pimpinan tidak perlu kita marah. Cukup senyum sinis saja, seharusnya staf sudah paham. Jangan seorang pemimpin memberi arahan kepada staf seperti kepada kuli, harus pakai didupak. Nah, sebaliknya, bawahan juga harus mengerti filosofi ini. Jadi, kita enggak perlu marah-marah, asal saling tahu posisi," kata Amalsyah.
Profil tentara yang garang memang tampak para performanya. Namun, meskipun orang tuanya bukan prajurit, Amalsyah lahir dalam keluarga besar TNI yang berkarier tinggi. Saat lahir pada 10 Juni 1962, orang pertama yang menyambut dengan kumandang azan adalah Letkol Abdul Gani. Ia adalah paman yang bertugas sebagai pengawal presiden dan baru saja pulang mengawal Soeharto bertugas di Irian Jaya. “Pas hari kelahiran saya itu juga Jenderal Gatot Soebroto meninggal dunia. Maka, paman dan ayah saya bilang anak ini akan jadi tentara nanti,” kata Amalsyah menirukan cerita ibundanya soal kelahirannya.
Suasana sipil yang melekat dalam kepemimpinan Amalsyah memang tak lepas dari tugasnya selama menjadi tentara. Alumnus Akabri 1985 ini sejak menjadi perwira lebih banyak bertugas bersentuhan dengan masyarakat. Zaman dwifungsi ABRI, ia sempat ditempatkan di kantor Sospol. Bahkan, kedekatannya dengan dunia olahraga mengantarkan putra Lampung kelahiran Jakarta itu dua kali menjadi komandan kontingen PON Sumatera Selatan.
“Terakhir, saya menjadi manajer Sriwijaya FC Palembang. Saya sempat bersama Rahmad Darmawan mengantar Sriwijaya FC meraih prestasi nasional. Pergaulan yang tulus yang membuat saya bisa seperti ini,” kata dia. (SUDARMONO)
BIODATA
Nama : Kolonel Czi. Amalsyah Tarmizi, S.I.P.
Kelahiran : Jakarta, 10 Juni 1962
Istri : Kania Riffianti, S.Sos.
Anak :
1. Aji Bima Amriza
2. Arvin Ditto Amriza
3. Amalia Shafa Amriza
Pendidikan :
- SD Teladan Tanjungkarang (1974)
- SMPN 2 Tanjungkarang (1977)
- SMAN 2 Tanjungkarang (1981)
- Akabri Magelang (1985)
- Universitas Terbuka (1986)
Sumber:
Wawancara, Lampung Post, Minggu, 8 Januari 2012
Senin, September 05, 2011
Selamat Ulang Tahun ke-20, Aji Bima Amriza Amalsyah
Pagi menyadarkanku dari lelap tidurku
Kulihat kalender di dinding
Tanggal 5 September 2011
Sejenak fikiranku melayang
Mengingat 20 tahun yg lalu
Saat itu usiaku 22 Tahun 3 Hari
Momen terindah dlm hidupku
Anugerah terbaik di hidupku
Allah Swt karuniakan aku seorang bayi yg lucu
Seorang bayi yg telah mengubah seluruh kehidupanku
Seorang bayi yg memberikan semangat dlm setiap tarikan nafasku
Sekarang ia sudah dewasa
20 Tahun usianya kini
Melihat kekar dan tegap tubuhnya
Serasa aku tak percaya bahwa ia dulu pernah hidup dlm rahimku
Dan dilahirkan ke dunia ini atas kuasa Allah Swt
Sebagai buah hati dan belahan jiwa kami kedua orang tuanya
Kesabarannya menerima segala petuah dan nasehat
Membuatku takjub atas karunia titipan Allah akan wujud anakku
Selamat Ulang Tahun, Bimbim
Selamat memasuki usia 20 Tahun di hidupmu
Semoga panjang umurmu dan sehat selalu
Semoga petunjuk Allah Swt selalu membimbingmu
Menaklukkan belantara kehidupan yg penuh belukar dan duri
Namun juga penuh keindahan duniawi yg mempesona
Semoga engkau makin dewasa dan makin baik
Mampu berfikir bijak dlm segala situasi
Menjadi penyejuk bagi kami
Menjadi pengayom bagi adik2mu
Sukses dlm menggapai cita2 dan harapanmu
Selalu menyandarkan doa dan pintamu hanya kpd Allah Swt
Aamiin
- Palembang, 5 September 2011 --- utk Bimbim di Bandung -
Kamis, Agustus 18, 2011
Menu Ramadhan
Hari 1
BUKA
* Tajil : Kolak pisang + kolang-kaling.
* Perkedel jagung, Udang goreng mentega, Sayur lodeh.
SAHUR
* Tempe penyet, Ayam goreng bumbu jahe, Martabak mie kornet, Sop makaroni + sayuran.
Hari 2
BUKA
* Tajil : Es/Bubur mutiara + gula merah cair + santan.
* Daging gepuk, Ikan gurame goreng cabe merah + tomat, Gado-gado.
SAHUR
* Ayam panggang, Ati + ampela goreng, Sayur bening sawi putih + ebi/udang kupas.
Hari 3
BUKA
* Tajil : Bubur candil.
* Perkedel kentang + kornet, Telur rebus iris, Soun, Soto ayam (toge panjang) komplit.
SAHUR
* Telur asin, Lele goreng sambal penyet, Perkedel tahu, Rawon (toge pendek) komplit.
Hari 4
BUKA
* Tajil : Es kelapa muda + nata de coco.
* Udang goreng tepung, Fu yung hay, Cap cay kuah.
SAHUR
* Telur mata sapi, Bistik komplit : kentang rebus potong dadu, wortel iris tusuk gigi, buncis, daging bistik.
Hari 5
BUKA
* Tajil : Es cendol + tape singkong + cincau.
* Orak-arik peda, Ayam goreng kremes, Tempe tahu bacem, Sayur asem.
SAHUR
* Telur dadar tahu, Paru goreng, Tumis toge + ikan teri, Sop ceker/kikil + kacang ijo + bola daging.
Hari 6
BUKA
* Tajil : Es Cocktail (Es Buah potong).
* Sate ayam, Ikan bawal goreng, Tumis kangkung + udang kupas.
SAHUR
* Malbi (daging semur), Cream Soup jagung sayuran.
Hari 7
BUKA
* Tajil : Es Melon + selasih + nata de coco.
* Pepes tahu, Ikan goreng asam manis, Gado-gado, Sop Kimlo.
SAHUR
* Opor ayam + tempe + tahu, Tumis labu siam ca udang, Sambal goreng ati kentang + bola daging.
Hari 8
BUKA
* Tajil : Es Campur.
* Gulai iga sapi, Perkedel jagung, Ikan nila goreng, Sambal goreng ati ampela, Tumis labu siam + wortel + ebi.
SAHUR
* Shabu-shabu komplit, Martabak kentang bumbu kari.
Hari 9
BUKA
* Tajil : Es Cendol.
* Telur mata sapi, Udang goreng tepung, Limpa goreng, Ikan sale bumbu santan, Karedok oncom leunca.
SAHUR
* Martabak mie, Sate daging, Tumis toge + tahu, Pindang ikan patin.
Hari 10
BUKA
* Tajil : Bubur kacang ijo + ketan hitam.
* Maccaroni schotel, Sop ikan kakap, Tahu sutra goreng.
SAHUR
* Bihun goreng seafood, Ikan seluang goreng tepung, Ayam goreng bumbu kuning, Tumis buncis + jagung muda, Pindang tulang.
Hari 11
BUKA
* Tajil : Cendol + biji mutiara + ketan hitam + gula merah cair + santan.
* Sop ikan bumbu kunyit, Dendeng goreng mentega + mix vegetables, Ayam goreng kremes.
SAHUR
* Opor ayam + telur + tempe + tahu, Ikan goreng bumbu jahe, Sambal goreng ati + kentang, Tumis labu siam + wortel + udang/ebi.
Hari 12
BUKA
* Tajil : Kolak Pisang + ubi + kolang-kaling.
* Ikan bawal goreng, Tumis oncom + leunca, Sambal terasi, Sop sosis + baso + jamur kancing + kacang polong + bola daging cincang + mie/bihun.
SAHUR
* Telur asin, Perkedel kentang + kornet, Rawon komplit, Tumis kangkung + udang kupas.
Hari 13
BUKA
* Tajil : Es Teler (cendol + cincau + selasih + biji mutiara + alpukat + kelapa muda).
* Ikan gurame bakar, Ayam goreng tepung, Karedok, Sayur asem.
SAHUR
* Mie goreng Jawa, Ikan seluang goreng, Rendang, Tempe + tahu goreng, Cap cay kuah (kembang kol + kembang tahu + sawi putih + wortel + sedap malam + jamur kancing + kacang polong + jamur kuping + daging ayam + udang kupas).
:-)
Kamis, Agustus 04, 2011
Sriwijaya FC: Mars SFC
Minggu, Mei 01, 2011
Kesetiaan
(Dimuat dalam Majalah Kartika Kencana Edisi 84/Th.XXVII-Juli2010)
Vira menyeka titik-titik peluh di wajahnya. Sudah dua jam ia memasuki berbagai toko buku, namun tak kunjung ditemukannya buku yang ia perlukan. Udara di tengah hari itu cukup membuat gerah. Lalu lintas pun seakan terpengaruh karenanya, dengan kemacetan arus kendaraan di sekitar pertokoan tersebut, meski sesungguhnya itu lebih disebabkan oleh ramainya orang-orang yang menggunakan waktu istirahat siang untuk makan dan urusan lainnya.
Sebuah toko buku yang cukup ramai walaupun tidak megah, membuat Vira menghentikan mobilnya dan memasuki toko tersebut. Begitu tiba di dalamnya, ia melihat banyak koleksi buku berderet di sepanjang dinding toko itu. Setelah memperoleh buku yang dicari, wajahnya seketika berubah ceria. Tanpa disadari, senyumnya mengembang saat ia membalik-balik halaman buku tersebut. Keadaan ini memancing perhatian seorang pria yang sejak Vira bertanya kepada pramuniaga tadi telah beberapa kali mencuri pandang kepadanya dan mengamatinya.
Benarlah, ia memang Vira, kata hati pria itu. Ternyata ia telah menjadi seorang wanita yang matang… Mengapa dulu aku tidak memperkirakannya, batinnya.
”Banyak juga buku yang dicari, Bu?" tanyanya setelah berada di samping Vira.
Konsentrasi Vira tidak terusik sedikitpun, sehingga pria tersebut mengulangi pertanyaannya.
Akhirnya Vira bereaksi sambil menoleh sekilas pada pria itu. "Iya, betul Pak…", Vira mengembalikan perhatian pada bukunya.
"Oo… begitu," ujar pria itu.
Mendengar suaranya, wajah Vira memancarkan ekspresi terkejut hingga sesaat ia mematung dengan dagu terangkat dan pandangan kosong ke depan. Rasanya aku pernah mendengar suara orang ini, pikirnya.
Suatu getaran menguasai seisi relung batinnya. Vira menoleh kepada pria tersebut yang tengah menunduk membaca sebuah buku sambil tersenyum. Vira mengorek ingatan samar-samar di dalam benaknya.
Pria itu menoleh dan menatapnya. Seketika itu juga Vira dapat lebih jelas mengenali wajah pria itu. Hatinya terkesiap, matanya terbuka lebih lebar. Oh… Guntur, bagaimana mungkin aku melupakanmu…, ujarnya dalam hati.
“Apa kabar, Vir?” tanya pria itu tersenyum.
Denyut jantung Vira berpacu kuat, “Eee… Aa… Aku baik-baik saja…,” Vira mengalihkan perhatian kembali pada bukunya untuk menutupi rasa gugup.
“Hei… Vira. Sudah lama tidak bertemu, tidak ingin menyalami aku?” Guntur mengulurkan tangannya.
“Oh… Iya, iya... maaf…” Vira menyambut jabatan tangan Guntur. “Apa kabar juga denganmu, Mas?” suaranya agak gemetar.
“Aku baik-baik saja… Sedang cari buku apa, Vir?” Guntur belum melepaskan tangan Vira.
“Biasa… untuk keperluanku mengajar. Kebetulan aku sedang tidak mengajar, jadi kugunakan waktu hari ini mencari buku yang kuperlukan untuk para mahasiswaku.”
“Oh… pekerjaanmu dosen, rupanya. Apa buku yang dicari sudah kamu temukan?” Guntur masih menggenggam tangan Vira dengan pandangan menelusuri paras ayunya.
Vira bertambah salah tingkah. “Sudah… Ini, yang sedang aku baca,” Vira berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Guntur. “Permisi sebentar, ya…” Kenapa kamu jadi begini, Vir…? Tunjukkan rasa percaya dirimu dong, hati Vira berbisik.
Memahami sikap Vira, Guntur melepaskan genggaman tangannya. Selanjutnya Vira berpura-pura masih mencari-cari buku, namun seakan tidak peduli Guntur terus mengikutinya, hingga saat Vira menghampiri meja Kasir pun Guntur bersikeras membayarkannya meski Vira sudah berusaha menolaknya.
“Terima kasih banyak, Mas. Maaf, aku sudah merepotkan,” ujar Vira setibanya di luar.
“Jangan sungkan begitu, kita kan bukan baru kenal kemarin.”
Kalau memang demikian, mengapa dulu kau tak memberi kabar, batin Vira bertanya. “Mas Guntur tinggal di sini ?”
“Ya, baru seminggu. Aku baru pindah ke kota ini. Dan kau sendiri?”
“Aku sudah hampir satu tahun tinggal di kota ini, sejak suamiku menerima tugas barunya... Baiklah, aku pulang dulu, Mas.”
“Kamu mau ke mana lagi, Vir ? Ayo, aku antar,” Guntur menawarkan jasa.
“Terima kasih, Mas. Mobilku diparkir di sana, silakan kalau Mas Guntur masih ada kegiatan lain... Sampaikan salamku untuk Mbak Eva, ya…”
Vira hendak berbalik, namun Guntur menarik tangannya tanpa mempedulikan pandangan orang-orang di sekelilingnya. “Tunggu, Vir. Kamu mau pergi begitu saja, setelah sepuluh tahun lebih kita tidak bertemu? Kamu tidak senang bertemu denganku?”
“Ah… Bukan begitu, Mas. Aku hanya tidak mau mengusik kegiatanmu,” dalih Vira menghindari tatapan Guntur.
“Kalau memang aku merasa terusik, untuk apa aku menawarkan diri ingin mengantarmu..?”
Vira membisu. Oh, Tuhan… Mengapa dia tidak mau beranjak pergi..? Mengapa Kau pertemukan lagi aku dengannya..., keluh hati Vira.
“Aku ingin mengajakmu makan siang, boleh ?” tanya Guntur dengan tatapan memohon.
“Maafkan aku, Mas. Bukannya aku tidak mau, tapi anak-anakku di rumah sudah menunggu. Hari seperti ini saat aku bebas tugas mengajar, mereka berharap bisa makan siang bersamaku,” Vira masih berusaha mengelak pendekatan Guntur.
Merasa ditolak sedemikian rupa, Guntur mengalah, “Ya sudahlah, kalau memang kamu tidak sempat, aku tidak memaksa. Padahal banyak sekali yang ingin kubicarakan denganmu. Mudah-mudahan kita bisa bertemu lagi.”
“Baiklah… Sekali lagi terima kasih, Mas. Aku pulang dulu.”
“Hati-hati, Vir. Salam untuk suamimu,” Guntur sama sekali tak beranjak dari tempatnya sampai Vira dan mobilnya hilang dari pandangan ditelan kepadatan lalu-lintas.
Selama seminggu ini, pikiran Vira tidak tenang. Tak seperti biasanya, kini ia merasakan rindu sangat mendalam kepada suaminya, Bayu. Meskipun Bayu keluar kota selama beberapa hari bukanlah hal yang luar biasa bagi Vira – dibandingkan saat ia harus berbulan lamanya menanti kepulangan Bayu dari tugas operasi di daerah rawan konflik maupun rawan bencana – namun kini ia benar-benar merasa sangat membutuhkan Bayu untuk diajaknya berbagi rasa. Padahal, baru tadi pagi Bayu meneleponnya, mengabarkan ia akan tiba sore nanti.
Peristiwa pertemuan dengan Guntur beberapa hari kemarin telah membawa angannya kembali pada masa lalu. Ia tidak akan pernah lupa pada kenangannya bersama Guntur...
Vira masih duduk di bangku Kelas III Sekolah Menengah Atas saat pertama kali berjumpa dengan Guntur – mahasiswa Jurusan Teknik Arsitektur Semester VI – di pesta ulang tahun sahabatnya. Dari perkenalan itu selanjutnya mereka menjadi akrab, karena Guntur sering berkunjung ke rumahnya dan mereka sering jalan bersama.
Setelah persahabatan mereka berjalan sekitar satu tahun, saat Vira berstatus sebagai mahasiswa baru di Fakultas Ekonomi, ia mulai menaruh hati kepada Guntur akibat kebersamaan mereka. Namun perasaannya itu tidak pernah sekali pun diungkapkannya kepada Guntur, karena meski selama ini Guntur sering menunjukkan rasa sayang kepadanya melebihi persahabatan biasa, tetapi Guntur selalu menganggapnya seperti layaknya seorang anak kecil. Vira menyadari benar kenyataan itu, mengingat Guntur selalu memanggilnya dengan sebutan “adik kecil”.
Dari sahabat Guntur, Vira mengetahui bahwa Guntur memiliki seorang kekasih di kota asal tempat tinggalnya, yaitu Eva, teman sekelasnya saat di SMA. Vira sering menggoda Guntur untuk mengakui hal itu, namun Guntur selalu menghindar dengan mengalihkan pembicaraan dan tidak pernah mau mengakuinya. Perasaan Vira menjadi tak menentu karenanya...
Dua tahun berlalu setelah itu, Guntur menyelesaikan kuliahnya. Ia kembali ke kota asalnya. Pada awal kepergiannya, ia masih menyurati Vira secara teratur – sebulan sekali – menceritakan bagaimana ia mulai bekerja sebagai Arsitek di sebuah perusahaan konstruksi, bagaimana ia menghadapi bosnya, dan banyak cerita lainnya, namun tiada satu surat pun yang bercerita tentang sisi kehidupannya yang paling pribadi, tentang siapa pacarnya. Hal ini semakin membingungkan Vira, karena Vira selalu bercerita tentang apa pun perasaannya, kecuali rasa sayangnya yang telah berubah menjadi rasa cinta yang terpendam kepada Guntur.
Di dalam surat-suratnya, Vira bercerita kepada Guntur tentang beberapa teman kuliah maupun kenalan yang menyatakan menaruh hati kepadanya namun tidak ada satu pun yang dapat mengisi hatinya, karena ia merasa diri “masih kecil”, “masih muda”, dan sebagainya. Ia tidak pernah menyatakan bahwa alasan penolakan atas semua pria yang mendekatinya adalah karena ia masih selalu mengharapkan Guntur-lah yang dapat menjadi kekasihnya…
Menjelang akhir kuliahnya, Vira mulai jarang menerima surat dari Guntur bahkan akhirnya sama sekali tak lagi menerimanya, namun demikian Vira masih tetap menyuratinya. Vira berpikir, mungkin Guntur telah sedemikian sibuknya dengan pekerjaannya, demi kelancaran perjalanan karirnya.
Tiada terasa waktu berlalu, hingga Vira telah menyelesaikan kuliahnya. Sebelum menjadi dosen tetap kini, ia bekerja sebagai pegawai honorer di sebuah perusahaan konsultan manajemen. Di tempat itulah ia mulai berkenalan dengan Bayu, seorang Perwira muda TNI Angkatan Darat. Tugas dan pekerjaan Bayu yang berhubungan dengan bidang konstruksi dan berkaitan dengan perusahaan tempat Vira bekerja, telah mempertemukan mereka dalam hubungan pekerjaan.
Pembawaan Bayu yang tenang, memiliki kharisma yang membuat Vira senang bergaul dengannya, meski usia Bayu lebih tua darinya, berselisih sekitar tujuh tahun. Luasnya wawasan pengetahuan pemuda itu banyak membimbing dan membuka pikirannya, sehingga Vira dapat segera menyesuaikan diri dengan lingkungan kerjanya dan sungguh menikmati seluruh pekerjaannya.
Baru sekitar 6 bulan Vira bekerja, saat menghadiri pernikahan sahabatnya semasa kuliah, ia bertemu dengan sahabat Guntur. Dengan gembira ia bertanya tentang kabar Guntur, namun jawaban yang diterima membuatnya merasa seakan dunia berhenti berputar, “Guntur sudah menikah dengan Eva, teman SMA-nya itu…” Selanjutnya ia menangkap pembicaraan sahabat Guntur itu bahwa mereka sudah berkali-kali putus pacaran, lalu menyambung lagi, kemudian putus lagi, menyambung lagi, dan seterusnya, hingga akhirnya mereka jadi menikah juga.
Suara teriakan anak-anaknya – Ksatria dan Rio – yang menyerukan Bayu telah tiba, menyadarkan Vira dari lamunannya. Ah… kenapa aku jadi tukang melamun begini, keluh hatinya. Bergegas ia ke ruang depan menyambut kedatangan suaminya itu. Hatinya lega, Bayu sudah kembali ke rumah dengan selamat.
“Capek ya, Mas?” Vira mencium punggung tangan Bayu dan mengambil tas kerja yang diletakkan di kursi tamu oleh Pak Kardi, supir dinas suaminya. “Aku siapkan air hangat untuk mandi, ya ? O’ya, sebentar… aku buatkan kopi dulu,” Vira dengan segera telah melaksanakan kembali tugas rutinnya setiap Bayu baru tiba kembali di rumah.
“Nanti dulu dong, Dek…” bisik Bayu menggoda Vira. “Aku tidak ingin minum kopi, tapi aku ingin kamu... Sini… aku kangen sekali padamu,” Bayu memeluk Vira dari belakang, hingga Ksatria dan Rio tertawa-tawa melihatnya.
“Mas… malu ditertawakan anak-anak, itu…”
Meski sudah tujuh tahun menikah, Vira masih saja suka tersipu-sipu menanggapi perilaku Bayu yang senang menggodanya. Sikap tersipu-sipu Vira itulah yang membuat Bayu selalu merindukannya.
Delapan tahun lalu, Bayu melamarnya saat ia mulai melupakan Guntur. Setelah selama hampir satu tahun Vira menyelami sikap dan perilaku Bayu sejak mereka mulai berkenalan, Bayu nampak memberikan perhatian yang sangat istimewa terhadap Vira, dibandingkan dengan semua teman laki-laki Vira. Sifatnya yang penyabar telah meluluhkan hati Vira, terutama saat menghadapi sikap Vira yang terkadang dirasakannya sendiri sebagai sikap kekanak-kanakan.
Saat itu Vira beranggapan bahwa Tuhan telah mengirimkan kepadanya seseorang hanya sebagai pelipur duka dan penyembuh patah hatinya. Namun kemudian ia percaya bahwa anggapannya semula itu adalah kurang benar, karena ternyata ia sangat mencintai Bayu, setelah ia menyadari bahwa ketertarikannya kepada Bayu sesungguhnya karena ia juga telah menaruh hati kepadanya.
Memang, terkadang ia masih mengingat kenangannya bersama Guntur, namun hanya di masa awal pernikahannya. Tentang segala sesuatu mengenai Guntur dan hubungannya dengan pria itu, diceritakannya semua kepada Bayu. Selanjutnya, Vira berusaha untuk melupakan sama sekali kenangan tersebut, didasari keyakinan bahwa ia tidak boleh menodai ikatan suci perkawinan mereka.
Meski demikian, Bayu bersikap toleran dengan sesekali menanyakan kepadanya apakah ia mendengar kabar tentang Guntur, saat menyelangi pembicaraan mengenai masa lalu masing-masing…
Helaan panjang nafas Bayu mengembalikan kesadarannya. Alangkah bersyukurnya aku menjadi istrimu, Mas Bayu… Tanpa terasa, ia pun menyusul Bayu menuju alam mimpi…
Vira memasuki ruang kerja Bayu dengan langkah ringan, setelah sebelumnya ia mengetuk pintu. Di sela waktu luangnya, ia menyempatkan diri bertemu Bayu di Batalyon. Tadi pagi mereka sudah saling berbincang, tetapi kerinduannya seakan belum habis. Di dalam ia melihat Bayu sedang berbicara dengan seseorang, namun ia tak mengenalinya karena pria itu duduk memunggunginya.
Melihatnya masuk, Bayu segera mengenalkannya dengan pria tersebut, “Hallo, Dek. Kenalkan, ini Mayor Guntur, calon Wadan baru yang akan menggantikan Mayor Haris. Tur, kenalkan… ini istriku, Vira…”
Pria itu berdiri dan berbalik menghadapinya seraya hendak mengulurkan tangan. Jantung Vira kembali terkena sengatan seperti beberapa hari yang lalu. Demikian pula halnya dengan Guntur, ia pun seakan kembali dihadapkan pada komandan yang diseganinya di masa lalu hingga seketika mengambil sikap sempurna.
Melihat ekspresi wajah kedua orang di hadapannya, Bayu serta-merta menyadari bahwa inilah “Guntur” yang selalu diceritakan Vira. Semula ia memang tidak pernah berpikir sampai ke situ.
Untuk sejenak keheningan menguasai dan melingkupi ruangan itu seolah hendak menelan mereka semua yang berada di dalamnya. Namun setelah itu Bayu sekejap mencairkan kebekuan suasana itu, “Hei, hei… Buat apa kukenalkan kalian… Kalian sudah saling kenal ‘kan?”
Vira tersadar dan tersipu malu. Ia mengulurkan tangannya kepada Guntur. Menyaksikan keadaan ini, Bayu yang sangat memahami perasaan istrinya yang sangat ingin mengetahui kabar tentang Guntur – setelah selama bertahun-tahun ini menyelimuti perasaan Vira – dengan arif menyilakan mereka berdua untuk saling berbicara.
“O’ya… Aku mau lihat dulu persiapan di Ruang Data. Kamu jangan pulang dulu ya, Dek” ujar Bayu kepada Vira. Lalu ia menoleh kepada Guntur, “Tur… Tolong kamu temani dulu istriku mengobrol di sini, ya… Sebentar aku kembali.”
Tinggallah Vira bersama Guntur di dalam ruangan Bayu selepas ia keluar dari tempat itu.
Mereka duduk berhadap-hadapan. Guntur yang beberapa hari lalu aktif mendekati Vira, kini terdiam membisu. Vira mencoba membuka percakapan.
“Aku baru tahu kalau Mas Guntur yang akan menggantikan Mayor Haris…”
“Ee… Iya, Vir… Baru hari ini, tadi pagi aku ke Kodam dengannya didampingi oleh suamimu,” Guntur mulai dapat menguasai dirinya kembali. “Aku juga baru tahu kalau calon komandanku itu suamimu...”
“Aku juga baru tahu kalau Mas Guntur ternyata adalah seorang prajurit Angkatan Darat, aku masih mengira Mas bekerja di perusahaan swasta itu... Sama sekali tak kukira bahwa selama sekian tahun ini kita berada dalam lingkungan yang sama,” sahut Vira pelan.
Guntur tersenyum, “Setelah hampir 2 tahun bekerja di perusahaan itu, aku memutuskan untuk menjadi seorang prajurit. Tapi tidak seperti suamimu yang lebih banyak tugas tempur di lapangan, aku lebih banyak bertugas sebagai Staf karena profesiku ini. Dan kini... di sinilah aku bertugas sekarang.” Guntur menghela nafas, “Maafkan sikapku yang lalu…”
“Sikap Mas yang mana ? Ah… Jangan dipikirkan, Mas…”
“Selama ini aku tidak pernah menghubungi kamu lagi, karena aku sibuk dengan pekerjaanku…”
“Tidak apa-apa, Mas. Yang penting aku senang mendengar Mas Guntur bahagia,” Vira tersenyum. Aneh, mengapa sekarang aku bisa setenang ini menghadapinya, pikirnya.
“Tapi aku tidak bahagia, Vir. Sesungguhnya dulu aku mencintaimu, Vir… sampai setelah perpisahan itu, bahkan hingga kini pun aku masih selalu merindukanmu…”
Alis Vira terangkat. Ekspresi wajahnya menunjukkan keinginan bertanya, tetapi Guntur terus berbicara.
“Sampai kini, Eva pun hanya memiliki ragaku, tetapi tidak jiwaku… karena hatiku telah kamu bawa, Vira…” Guntur menatap mata Vira.
“Jangan berkata demikian, Mas. Itu tidak pantas…” Rasa simpati Vira kepada Guntur lenyap seketika.
“Tapi itu kenyataannya, Vir. Aku berada pada dua pilihan saat itu, kamu atau Eva. Sejak SMA aku sudah terlanjur mengikat janji dengan Eva, untuk bersamanya kelak hingga menikah. Aku tak bisa mengingkari janjiku, hubungan kami sudah sedemikian dekatnya. Tapi kemudian aku bertemu denganmu, kamu sudah menawan hatiku, aku mencintaimu. Namun untuk mengatakannya, sungguh tidak mungkin.”
Bayangan kabur yang dulu sering menghantui Vira, kini lenyap begitu saja… Ia telah tiba pada kesimpulannya... Ia sudah mengetahui kelanjutannya…
“Mas Guntur, ketahuilah bahwa aku tidak pernah mencintaimu. Aku menyayangimu hanya sebagai seorang kakak…”
Guntur tertegun.
“Mas Guntur sendiri yang selalu memanggilku dengan sebutan ‘adik kecil’… Ingat, kan…?”
“Tapi… Vir… Aku...”
Saat itulah Bayu masuk ke dalam ruangannya, “Bagaimana, sudah sampai mana obrolannya?”
Guntur membisu. Ia tampak malu…
Bayu mengangkat alisnya menatap Vira, yang mengedipkan sebelah mata kepadanya. Bayu menangkap isyarat itu, lalu dijabatnya tangan Guntur. “Baiklah, sudah siap untuk jabatan barumu?”
Guntur yang merasa tahu diri bersiap keluar ruangan, “Siap, Dan. Mohon ijin, saya langsung ke Ruang Data saja Ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada para Kasi dan Danki sebagai pendahuluan untuk Rapat nanti.” Ia mengangguk kepada Vira tanpa berani menatap matanya dan berlalu dari ruangan itu.
Begitu Guntur menutup pintu, Bayu bertanya, “Apa yang kamu obrolkan, Dek?” Kok Guntur pucat seperti mayat begitu ?”
“Pada intinya, sekarang mataku semakin terbuka lebar, Mas…”
“Ah… dari dulu matamu memang bulat begitu, kok,” goda Bayu.
“Eh… Mas Bayu ini… Maksudku, aku sekarang sadar dia tipe laki-laki macam apa. Persahabatan dan kesetiaan baginya ternyata hanya untuk diucapkan saja. Aku bisa mati berdiri kalau jadi istrinya…,” Vira teringat akan ucapan Guntur.
“Betul, nih ?”
“Nanti aku ceritakan selengkapnya di rumah, Mas. Yang pasti, aku makin bersyukur kau sudah memilihku menjadi istri Mas...”
“Syukurlah kalau kamu sudah mengatasinya. Aku percaya padamu.” Bayu tersenyum mengelus pipi Vira. “Sekarang apa acaramu ?”
“Aku mau ke kampus, Mas. Ada tugas mengajar.”
“Kalau begitu, tunggu aku di rumah malam nanti…” Sebelah mata Bayu mengedip nakal.
Vira kembali tersipu meski mereka hanya berdua di ruangan itu. “Iya… Aku pergi dulu, Mas…” Vira mencium tangan Bayu yang kemudian dibalas Bayu dengan mengecup dahi Vira.
Dalam perjalanan menuju kampusnya, Vira merasa sangat bersyukur bahwa Tuhan telah mengaruniakan Bayu kepadanya, dan tidak menjodohkannya dengan Guntur. Terjawab sudah semua pertanyaan yang selama ini sering memenuhi benaknya, mengapa Guntur tidak bisa menjadi miliknya. Di wajahnya tersungging senyuman puas dan bahagia…
